Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Sabar dalam Pandangan Tasawuf

Sabar dalam Pandangan Tasawuf

Menurut Imam Al-Ghazali istilah sabar yaitu الحَبْسُ(pengurungan) dan pengekangan dalam kesusahan, Allah Swt berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

Artinya: Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas. (Q.S. Al-Kahfi [18]: 28) Ayat tersebut diturunkan ketika Uyaynah Ibnu Hishan Al-Fazari mendatangi Nabi Muhammad Saw, sebelum dia masuk Islam, dan disisinya ada sekelompok orang-orang miskin, termasuk Salman dan dia mengenakan selendang wol yang telah dibasahi keringat, dan di tangannya addaanyaman yang dia belah dan ditenun. Uyaynah berkata kepada Nabi, “Apakah bau orang-orang ini merugikanmu, padahal kami adalah penguasa mudhordan para bangsawannya? Jika kami masuk Islam, maka orang-orang akan masuk Islam, dan tidak ada yang menghalangi kami untuk mengikutimu kecualimereka ini”. Kepadamu, atau mengangkat suatu dewan untuk kami, maka Allah Swt menurunkan: وَاصْبِرْ نَفْسَكَ mengurung diri wahai Muhammad bersama orang-orang yang mereka seru (mereka menyembah Tuhannya). M. Dahlan Al-jamfasi, Siraj At-Thalibin Sarh Ala Minhaj Al-Abidin, Dar- Al-KotobAl-Ilmiyah: Bairut 2019.144. dan menurut Abdul Somad Palembani sabar yaitu menahan diri dari sesuatu yang tidak disukainya dan menahan lidahnya dari mengadukan kepada yang lainnya dari pada Allah Swt. hukum sabar atas ketaatan dan meninggalkan maksiat itu hukumnya fardhu ‘ain dan sabar atas bala dan ujian itu hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap orang mukallaf. Adapun orang sabar atas melaksanakan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh, mubah, dan meninggalkan sesuatu yang berlebihan pada hajatnya itu setengah dari sabar, dan sabar atas tidak membalas mendzalimi seseorang itu sunnah dan pahala juga sangat besar sebagaimana dalam al-qur’an. Adapun martabat sabar ini yaitu:

Muridin yaitu orang yang ringan di hati mereka itu akan kesusahan dan ujian karena mereka menolak dengan mata hatinya akan sesuatu yang datang kepadanya itu semuanya dari Allah Swt. maka ketika tidak ada kesusahan meninggalkan akan pahala dan tidak ada juga menolak akan siksa. Karena mereka semata-mata mengikuti tanda dari Allah di dalam Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Q.S. Al-Baqarah [2]: 153)

Zahidin dan Salikin yaitu orang yang sabar atas segala hukum Allah yang datang kepada mereka dan mereka berlepas dari ikhtiar karena mereka telah melihat bahwa segala yang mereka ikhtiarkan itu sudah diatur oleh Allah dalam Azali atau lauhil mahfuz,jadi apapundatang bala atasnya itu maka mereka tahu bahwa segala sesuatu itu sudah tertulis di lauhil mahfuz dan hati mereka sama-sama meridhai akan Allah dan jika pada diri mereka itu merasa sakit hati mereka tetap akan meridhainya ini dinamakan sabar akan hukum Allah dan qadanya. (Abdul Somad Palembani, Hidayat As-Salikin, Ter. Melayu. 230-231). Dan sabar yang bagus itu bahwa dia tidak mengenal apa itu suatu musibah, dan sabar yang disebutkan ini tidak mungkin bisa didapatkan kecuali dengan latihan yang panjang pada beberapa saat. Sabar dalam ketaatan kepada Allah adalah sabar dalam melaksanakan kewajiban dalam beribadah kepada Allah Swt.

رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهٖۗ هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا ࣖ

Artinya: (Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit, bumi, dan segala yang ada di antara keduanya. Maka, sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui sesuatu yang sama dengan-Nya? (Q.S. Maryam [19]: 65).

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

Artinya: Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan (yang baik di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa. (Q.S. Taha [20]: 132).

Dua ayat ini telah ditekankan bahwa adanya keteguhan dalam sabar, karena jalan menuju ketaatan kepada Allah Swt. sangat sulit, berbagai banyak rintangan baik itu dari diri kita maupun dari luar. Al-Imam Al-Ghazali berkata: “Sabar dalam melakukan ketaatan adalah berat, karena nafsu manusia pada dasarnya enggan menyembah (beribadah) tetapi cenderung mendominasi orang lain. Dan seseorang yang taat dan patuh membutuhkan sabar dalam tiga hal: pertama, Sabar sebelum ada sebelum datangnya ketaatan yaitu dengan ikhlasun niyyat (meluruskan niat), sabar ini merupakan sebuah usaha dalam menghilangkan ria. Membulatkan niat dan tekad untuk berusaha jujur dalam menepati janji. Hal ini berat untuk dilakukan bagi orang yang mengerti hakekat, niat, ikhlas, keburukan riya dan tipu data nafsu. Kedua, sabar dalam bekerja agar tidak melalaikan Allah dan tidak malas untuk menepati pelaksanaan peraturan dan hukum Allah, dan memenuhi syarat-syarat peraturan hingga tuntas seluruh pekerjaan. Ketiga, setelah selesai pekerjaan dibutuhkan kesabaran dengan tidak merasa bangga yang berlebihan karena hal ini tergolong kepada riya dan mencari popularitas, sehingga mengakibatkan hilangnya keikhlasan.

۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta jangan batalkan amal-amalmu! (Q.S. Muhammad [47]: 33)

Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan untuk bersabar, dan memuji orang sabar serta menjanjikan kebaikan bagi yang melakukannya. Sabar yang terpuji dalam al-qur’an ialah karena Allah dan bukan untuk memperoleh pujian atau tanda jasa dari manusia. Sabar merupakan sikap yang sangat dibutuhkan oleh setiap mukmin di zaman sekarang yang setiap harinya semakin banyak di landa fitnah, problem, dan musibah yang menerpa semua orang terkhusus kaum muda, bahkan bisa berpotensi membahayakan dakwah dan penyampaian terhadap risalah-risalah Islam. Hal ini dikarenakan kaum muda cenderung tidak berhati-hati dan tidak sabaran. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang muslim untuk menerapkan sabar dalam kehidupan terlebih untuk kaum muda.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.