Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Siti Kasrini, Sosok Petani yang Tak Kenal Lelah

IMG_0351

Penulis: Nur Faidatul Laila, Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram

MAHASISWA.CO.ID - Seorang wanita bernama Siti Kasrini yang tinggal di Desa Sendangagung bersama dengan suaminya dan seorang anaknya yang masih menjadi tanggung jawabnya. Bu Siti merupakan wanita yang pekerja keras, dia melakukan segala hal untuk menghidupi keluarganya, salah satunya yaitu menjadi seorang petani. Meskipun usianya bisa dibilang tidak muda lagi yaitu 56 tahun, Bu Siti masih semangat melakukan semua aktivitasnya di sawah tanpa mengenal lelah. “Di dalam sebuah kehidupan doa adalah senjata paling ampuh untuk menaklukkan apapun yang diinginkan dan ikhtiar adalah salah satu jalan untuk meraihnya.” Tutur Bu Siti. Memang benar, doa adalah kunci dan senjata untuk berserah diri kepada Allah SWT.

Bu Siti tinggal di rumah sederhana yang merupakan saksi perjuangan dirinya yang dari muda bekerja keras sebagai seorang petani dengan laki-laki yang merupakan suaminya. Suami Bu Siti berusia hampir 70 tahun. Dengan usia yang tidak lagi muda itu keduanya masih semangat melewati terjalnya perjalanan demi bisa merasakan sesuap makanan tiada hal lain yang dilakukan selain bekerja sebagai petani.

Pekerjaan adalah sebuah kegiatan mulia bagi Bu Siti untuk menyenangkan satu anak yang masih tersisa dan mencukupi semua kebutuhan. Meskipun hanya tersisa satu anak yang masih menjadi tanggung jawab Bu Siti, tetapi beliau sangat bekerja keras, penuh kesabaran dan keikhlasan. “Ikhlas adalah obat bagi Bu siti untuk menyembuhkan segala rasa lelah yang tidak bisa diredam, lebahnya badan dan kucuran keringat dari setiap sudut wajah yang mulai mengeriput merupakan tanda untuk meraih keridhaan yang tak pernah luput”. Ungkap Bu Siti. Dengan keyakinan Bu Siti, beliau melakukan pekerjaannya dan melewati semua badai yang harus diterjang untuk membuka jalan kebahagiaan.

Sebagai seorang petani, Bu Siti mengaku sangat sibuk karena banyak kegiatan yang dilakukannya. Selain mengurusi sawahnya, beliau juga menjadi seorang ibu rumah tangga. “Mulai dari shubuh sampai malam saya melakukan banyak aktivitas yang harus saya lakukan seperti masak, bersih-bersih, memberi makan hewan ternak, dan lain-lain sebelum berangkat ke ladang untuk menggarap sawah.” Tutur Bu Siti Bu Siti yang menyelami kehidupan sebagai orangtua dan seorang petani sangat handal dalam membagi waktunya yang tergolong sangat padat.

Setiap pagi sebelum adzan Shubuh berkumandang Bu siti sudah bangun untuk menyiapkan sarapan dengan menu masakan yang sederhana, beliau memasaknya dengan penuh cinta yang luar biasa. Makanan apapun yang dimasak Bu Siti selalu menjadi favorit bagi suami dan anaknya tak lupa saat suara adzan sudah menggema beliau langsung bergegas untuk menunaikan kewajibannya yaitu melaksanakan salat subuh.

Sedangkan suaminya bergegas menuju ke masjid yang berada di belakang rumahnya. Selanjutnya sebelum pukul enam pagi Bu Siti sudah bersiap untuk berangkat ke ladang miliknya yang saat ini ditanami padi dan palawija. Bu Siti bekerja sebagai petani yang menanam tanaman sesuai dengan musimnya. Menjadi seorang petani adalah hal yang ditekuninya sejak lama untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Bu Siti dan suaminya, keduanya rela menahan lelah dan letih, dikerubungi banyak nyamuk, serta bertemu dengan berbagai jenis ular adalah hal yang biasa bagi keduanya. “Sudah biasa ketemu dengan hewan-hewan yang ganas seperti kalajengking, kelabang, ular dan lain-lain tapi kalau mereka tidak diganggu tidak akan mengganggu”. Ujar Bu siti

Bekerja di ladang miliknya yang tidak terlalu luas itu Bu Siti dengan kurun waktu sampai sebelum adzan dzuhur berkumandang. Meskipun harga palawija saat ini tidak menentu dan hasil panen anjlok, namun Bu Siti selalu berusaha keras untuk tetap menjalankan pekerjaan tersebut dengan hati yang lapang.

“Harga palawija seperti kacang, jagung dan lain-lain memang tidak bisa diprediksi terkadang harganya sangat murah sekali dan hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama, terkadang juga harganya lumayan mahal dari harga biasanya namun tidak lama kemudian harganya akan turun kembali karena tidak menentu. Kalau harganya enam sampai tujuh ribu rupiah pendapatan akan berkurang belum lagi untuk membayar cicilan listrik dan anak saya kuliah. Kalau hujan seperti sekarang harganya sudah Rp10.000 jadi bisa nabung sedikit-sedikit”. Tutur Bu Siti.

Beliau tidak hanya sebagai petani yang mengerjakan ladangnya sendiri namun juga mempunyai pekerjaan sampingan sebagai buruh di pabrik ikan yang ada di dekat tempat tinggalnya. Waktunya ketika sesudah dzuhur sampai sebelum adzan Ashar saja waktu yang sangat sebentar untuk menghilangkan lelah, tepat pukul 03.00 Bu Siti sudah berangkat dahulu ke pabrik ikan, sementara suaminya menunggu selesai salat ashar berjamaah di Masjid lalu akan menyusul istrinya bekerja sebagai buruh di pabrik ikan. Bu siti melakukan itu baru-baru ini menjalani pekerjaan tersebut saat anak mereka sudah duduk di bangku kuliah.

“Sudah satu tahun saya dan suami ikut bekerja dipabrik ikan memetong dan mengeringkan ikan untuk menambah penghasilan keluarga.” Ungkap Bu Siti.

Ia bekerja di pabrik ikan bukanlah hal yang mudah, lelah yang belum hilang dari kerja di ladangnya, kini semakin bertambah. “Di bagian punggung saya terkena panas, di badan saya pegal tapi kalo dilakukan setiap hari ini tidak terasa, jadi saya senang kalau tiap hari ada ikan”. Tuturnya.

Tak banyak hasil yang didapatkan di pabrik ikan tersebut karena usia yang semakin tua semakin mengurangi kelincahan dan kebersihan Bu Siti.

Hasil yang didapatkan Bu Siti dari bekerja di pabrik ikan tidak banyak, yaitu hanya sekitar dua puluh ribu sampai lima puluh ribu rupiah dalam seharinya. Meskipun tidak seberapa uang yang didapatkannya, ia sangat mensyukurinya.

“Setiap ada ikan bisa untuk menambah penghasilan tapi kalau tidak ada ya menghabiskan waktu di ladang.” Ungkapnya.

Jadi Bu Siti bekerja di pabrik Ikan hanya digunakan sebagai pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan kalau pas ada ikan dan cuaca mendukung. Ia bekerja di pabrik kerupuk dilakukannya mulai dari pukul 15.00 sampai pukul 19.00 waktu yang sangat lama bagi Bu Siti.

Gimana seharusnya masa tua adalah masa istirahat bagi dirinya namun Bu Siti masih selalu giat bekerja untuk masa depan anaknya.

Di era sekarang ini dirinya hanya bisa bekerja sebagai petani di ladangnya sendiri dan buruh pabrik karena ijazah Bu Siti hanya sebatas tamatan sekolah dasar. Semua kegitan yang dilakukan Bu Siti selalu dilakukan dengan ikhlas dan terlihat sangat menikmati. Selain itu Bu Siti juga seringkali diminta untuk memasak nasi di acara-acara besar seperti hajatan, acara pernikahan atau khitanan yang ada di tempat tinggalnya. Bu Siti selalu dipercaya masyarakat untuk melakukan itu semua, tak hanya dilingkungannya Bu Siti juga kadang diminta untuk memasak nasi di acara besar kampung sebelah.

“Saya sering diminta untuk memasak nasi uduk juga bantuin bikin kopi untuk acaranya, biasanya sampai dua harian karena saya berangkat ya udah besok sampai jam 09.00”. Tutur Bu Siti.

Dia sangat senang sekali dalam melakukan semua pekerjaannya terutama dalam hal masak memasak yang memang digemarinya. Dalam melakukan hal itu beliau mendapatkan upah berupa sembako, seperti beras, sabun, gula, minyak, dan sebagainya. Dengan support dari keluarga terutama suaminya, keduanya saling menyemangati satu sama lain. Bu siti tampak tak menunjukkan raut kelelahan. “Anak saya adalah semangat saya, anak saya yang pertama sudah jadi orang Jakarta, anak saya yang kedua Semoga bisa kayak kakaknya. Saya selalu berdoa supaya kedua anak saya bisa lebih dari saya. Tutur Bu Siti.

Beliau dan suaminya adalah suatu bentuk keteladanan yang bisa dicontoh di usia yang tidak lagi muda dan tenaga yang tidak lagi kuat tak pernah menghalangi semangat mereka untuk terus berusaha menerjang lika-liku kehidupan, mereka berdua yakin dengan kerja keras ikhtiar dan doa yang mereka panjatkan akan berakhir dengan kemanisan.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.