Penulis: Nur Faidatul Laila, Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram
MAHASISWA.CO.ID - Seorang wanita bernama Siti Kasrini yang tinggal di Desa Sendangagung bersama dengan suaminya dan seorang anaknya yang masih menjadi tanggung jawabnya. Bu Siti merupakan wanita yang pekerja keras, dia melakukan segala hal untuk menghidupi keluarganya, salah satunya yaitu menjadi seorang petani. Meskipun usianya bisa dibilang tidak muda lagi yaitu 56 tahun, Bu Siti masih semangat melakukan semua aktivitasnya di sawah tanpa mengenal lelah. “Di dalam sebuah kehidupan doa adalah senjata paling ampuh untuk menaklukkan apapun yang diinginkan dan ikhtiar adalah salah satu jalan untuk meraihnya.” Tutur Bu Siti. Memang benar, doa adalah kunci dan senjata untuk berserah diri kepada Allah SWT.
Bu Siti tinggal di rumah sederhana yang merupakan saksi perjuangan dirinya yang dari muda bekerja keras sebagai seorang petani dengan laki-laki yang merupakan suaminya. Suami Bu Siti berusia hampir 70 tahun. Dengan usia yang tidak lagi muda itu keduanya masih semangat melewati terjalnya perjalanan demi bisa merasakan sesuap makanan tiada hal lain yang dilakukan selain bekerja sebagai petani.
Pekerjaan adalah sebuah kegiatan mulia bagi Bu Siti untuk menyenangkan satu anak yang masih tersisa dan mencukupi semua kebutuhan. Meskipun hanya tersisa satu anak yang masih menjadi tanggung jawab Bu Siti, tetapi beliau sangat bekerja keras, penuh kesabaran dan keikhlasan. “Ikhlas adalah obat bagi Bu siti untuk menyembuhkan segala rasa lelah yang tidak bisa diredam, lebahnya badan dan kucuran keringat dari setiap sudut wajah yang mulai mengeriput merupakan tanda untuk meraih keridhaan yang tak pernah luput”. Ungkap Bu Siti. Dengan keyakinan Bu Siti, beliau melakukan pekerjaannya dan melewati semua badai yang harus diterjang untuk membuka jalan kebahagiaan.
Sebagai seorang petani, Bu Siti mengaku sangat sibuk karena banyak kegiatan yang dilakukannya. Selain mengurusi sawahnya, beliau juga menjadi seorang ibu rumah tangga. “Mulai dari shubuh sampai malam saya melakukan banyak aktivitas yang harus saya lakukan seperti masak, bersih-bersih, memberi makan hewan ternak, dan lain-lain sebelum berangkat ke ladang untuk menggarap sawah.” Tutur Bu Siti Bu Siti yang menyelami kehidupan sebagai orangtua dan seorang petani sangat handal dalam membagi waktunya yang tergolong sangat padat.
Setiap pagi sebelum adzan Shubuh berkumandang Bu siti sudah bangun untuk menyiapkan sarapan dengan menu masakan yang sederhana, beliau memasaknya dengan penuh cinta yang luar biasa. Makanan apapun yang dimasak Bu Siti selalu menjadi favorit bagi suami dan anaknya tak lupa saat suara adzan sudah menggema beliau langsung bergegas untuk menunaikan kewajibannya yaitu melaksanakan salat subuh.
Sedangkan suaminya bergegas menuju ke masjid yang berada di belakang rumahnya. Selanjutnya sebelum pukul enam pagi Bu Siti sudah bersiap untuk berangkat ke ladang miliknya yang saat ini ditanami padi dan palawija. Bu Siti bekerja sebagai petani yang menanam tanaman sesuai dengan musimnya. Menjadi seorang petani adalah hal yang ditekuninya sejak lama untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Bu Siti dan suaminya, keduanya rela menahan lelah dan letih, dikerubungi banyak nyamuk, serta bertemu dengan berbagai jenis ular adalah hal yang biasa bagi keduanya. “Sudah biasa ketemu dengan hewan-hewan yang ganas seperti kalajengking, kelabang, ular dan lain-lain tapi kalau mereka tidak diganggu tidak akan mengganggu”. Ujar Bu siti
Bekerja di ladang miliknya yang tidak terlalu luas itu Bu Siti dengan kurun waktu sampai sebelum adzan dzuhur berkumandang. Meskipun harga palawija saat ini tidak menentu dan hasil panen anjlok, namun Bu Siti selalu berusaha keras untuk tetap menjalankan pekerjaan tersebut dengan hati yang lapang.
“Harga palawija seperti kacang, jagung dan lain-lain memang tidak bisa diprediksi terkadang harganya sangat murah sekali dan hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama, terkadang juga harganya lumayan mahal dari harga biasanya namun tidak lama kemudian harganya akan turun kembali karena tidak menentu. Kalau harganya enam sampai tujuh ribu rupiah pendapatan akan berkurang belum lagi untuk membayar cicilan listrik dan anak saya kuliah. Kalau hujan seperti sekarang harganya sudah Rp10.000 jadi bisa nabung sedikit-sedikit”. Tutur Bu Siti.
Beliau tidak hanya sebagai petani yang mengerjakan ladangnya sendiri namun juga mempunyai pekerjaan sampingan sebagai buruh di pabrik ikan yang ada di dekat tempat tinggalnya. Waktunya ketika sesudah dzuhur sampai sebelum adzan Ashar saja waktu yang sangat sebentar untuk menghilangkan lelah, tepat pukul 03.00 Bu Siti sudah berangkat dahulu ke pabrik ikan, sementara suaminya menunggu selesai salat ashar berjamaah di Masjid lalu akan menyusul istrinya bekerja sebagai buruh di pabrik ikan. Bu siti melakukan itu baru-baru ini menjalani pekerjaan tersebut saat anak mereka sudah duduk di bangku kuliah.

Komentar 0