Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Tantangan Ancaman Resesi Global 2023 dan Kesiapan Indonesia

Resesi Global 2023

Mahasiswa.co.id - Baru-baru ini isu mengenai terjadinya Resesi Global 2023 sedang marak-maraknya. Keadaan perekonomian berbagai negara di belahan dunia mengalami penurunan akibat kebijakan moneter yang di tetapkan. Dikutip Kamis (12/01/2023) dari Sambutan Presiden Jokowi Dodo dalam acara Rakornas dan Musyawarah Dewan Partai PBB, beliau berkata"Di tahun 2023 sepertiga ekonomi dunia diprediksi alami resesi. Artinya bila ada 200 lebih negara artinya 70an negara akan mengalami resesi." Iya, memang benar bahwasannya yang dikatakan Presiden Jokowi. Resesi Global ini dipicu oleh bencana dunia yang berdampak pada perekonomian negara secara global.

Pertama, Pandemi Global Virus Covid-19 yang membuat perekonomian negara-negara maju maupun berkembang turun drastis. Penurunan ini dipicu oleh kebijakan pembatasan-pembatasan aktivitas masyarakat khususnya dalam bidang perekonomian guna menenekan kasus covid-19 yang merajalela.

Kedua, diperparah terjadinya perang Rusia-Ukraina yang membuat dampak besar pada sumber daya migas. Padahal Rusia dan Ukraina termasuk negara produsen terpenting di dunia dalam hal komoditas ini. Kelangkaan migas yang disebabkan kurangnya pasokan migas membuat harga komoditas ini naik tajam. Inflasi pun tak bisa dihindarkan.

Ketiga, karena inflasi yang dialami negara secara global ini membuat Bank-Bank Sentral di seluruh dunia membuat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga. Hal ini dimakasutkan untuk memperbaiki perekonomian negara normal seperti sebelum bencana ini terjadi.

Kebijakan moneter ini memang dimaksutkan sebagai hal baik untuk keberlangsungan negara. Tapi apakah hal ini benar? World Bank sebagai Bank Dunia memprediksi pasti bahwa perekonomian dunia akan bergerak menuju Resesi di tahun 2023 ini akibat kebijakan moneter yang ditetapkan.

Lantas, apakah tantangan apa yang akan dihadapi Indonesia?

Pertama, Indonesia terancam keadaan ekonomi yang stagnan/stagflasi akibat dari harga-harga berbagai komoditas beresiko naik tajam. Tidak hanya dalam hal saja, tetapi dalam hal jasa. Upah hasil kerja karyawan juga dituntut untuk naik yang berimbas pada kebijakan-kebijakan suatu perusahaan. Misalnya saja, PHK. PHK diberlakukan untuk mengurangi jumlah lapangan pekerjaan yang ada untuk mengurangi jumlah gaji karyawan.

Kedua, Masyarakat yang cenderung lebih memilah-milah apa saja yang hendak dibeli dan mementingkan kebutuhan pokok. Hal ini berimbas pada roda perputaran dalam ekonomi. Dimana perusahaan tidak memperoleh keuntungan maksimal akibat turunnya minat masyarakat untuk membeli barang. Ancaman banyaknya perusahaan yang stop beroperasi atau bahkan tutup permanen.

Ketiga, Investasi-investasi yang sebelumnya dianggap untung setelah gejolak perekonomian yang demikian, beresiko tinggi mengalami kebangkrutan atau tidak mendapat keuntungan. Pemikiran-pemikiran investor yang demikian memicu turunnya kinerja berbagai investasi negara.

Lantas, apakah Indonesia siap menghadapi tantangan ini? Seberapa siap?

Fakta Penguat Pertama, Dikutip dari pengumuman oleh Badan Pusat Statistik Senin (06/02/2023) disimpulkan bahwa perekonomian Indonesia tumbuh dengan baik. Berdasarkan perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku jumlahnya mencapai Rp. 19.588,4 triliun, kemudian untuk PDB perkapita mencapai Rp. 71,0 juta atau US$ 4.783,9. Dibandingkan dengan perekonomian Indonesia tahun 2021 hanya 3,70%, di tahun 2022 ini Perekonomian Indonesia tumbuh sebesar sebesar 5,31%.

Fakta Penguat Kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang meningkat seperti keterangan sebelumnya didukung oleh berbagai terobosan-terobosan yang dilakukan pemerintah itu sendiri. Seperti bantuan-bantuan sosial yang diluncurkan untuk menstabilkan perekonomian masyarakat. Program-program seperti BLT-DD, BST, BPNT, PKH, dan lainnya dianggap berhasil untuk menstabilkan perekonomian Indonesia.

Fakta Penguat Ketiga, Fakta Penguat Ketiga, Pemerintah baru-baru ini menangani masalah inflasi dengan mengadakan gencaran belanja besar-besaran. Hal ini ditujukan agar masyarakat membelanjakan uang yang dipunyai untuk mengembalikan keadaan uang stabil kembali.

Fakta Penguat Keempat, masyarakat Indonesia mampu beradaptasi dengan keadaan krisis ekonomi dan kebijakan pemerintah. Terbukti dengan tumbuhnya perekonomian Indonesia, hal ini tidak lepas dari peran masyarakat itu sendiri untuk menghadapi gejolak yang dihadapi dengan strategi masing-masing.

Dari fakta-fakta di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia siap menghadapi ancaman Resesi Global 2023 ini, dengan keyakinan dan tindakan nyata terhadap kondisi ekonomi negara juga dengan terobosan-terobosan yang diupayakan. Keyakinan ini didasarkan atas pertumbuhan ekonomi yang nyatanya mengalami peningkatan di saat gejolak bencana yang ada. Dukungan masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi ini juga menjadi unsur pendorong perekonomian Indonesia agar tidak terkena gejolak Resesi Global.

Dukungan masyarakat dan tindakan pemerintah Indonesia harus stabil dan berfikir kritis untuk menangani tantangan-tantangan yang akan dihadapi. Pemerintah dan masyarakat harus membangun sinergi yang positif untuk perekonomian Indonesia agar benar-benar tidak terkena dampak Resesi yang cukup besar.

Oleh : Rika Dwi Agustin, Universitas Negeri Malang

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.