Trauma Sosial dari Senioritas: Mengapa Pengalaman Buruk di Sekolah Bisa Mempengaruhi Keberanian Berorganisasi di Kampus
Oleh Redaksi
Mahasiswa.co.id - Kalimat “masa putih abu-abu adalah masa terindah dalam hidup.” bagi sebagian orang, mungkin akan related dengan kalimat tersebut. Namun, bagaimana jika ternyata pengalaman yang didapat saat masa SMA justru menimbulkan luka yang membekas hingga ke bangku kuliah?. Erik Erikson (1992-1994) menjelaskan melalui teori perkembangan psikososial bahwa kepribadian manusia dapat berkembang melalui beberapa tahap, mulai dari bayi hingga lanjut usia. Setiap tahapnya akan terjadi dua aspek bertentangan yang bisa berdampak positif maupun negatif untuk perkembangan kepribadian seseorang.
Ada delapan tahap perkembangan menurut Erikson, salah satunya adalah tahap Identity vs Role confusion yaitu usia 12-18 tahun. Di masa ini individu mulai mencari jati diri. Individu akan mencoba berbagai peran sosial untuk menemukan identitas yang paling sesuai. Jika berhasil, ia akan memiliki rasa identitas diri yang kuat dan bersosialisasi dengan percaya diri. Namun, jika gagal, ia akan mengalami krisis identitas yang ditandai dengan bingung akan peran sosial yang ia miliki, rendah akan kepercayaan diri, serta sulit membangun hubungan sosial yang sehat.
Pengalam negatif seperti senioritas atau perlakuan tidak adil di organisasi saat sekolah dapat menjadi faktor penghambat dalam proses pembentukan identitas ini. Perasaan takut dan cemas yang berlebihan bahkan sampai tidak percaya diri yang muncul akibat pengalaman tersebut bisa terbawa hingga masa kuliah. Tidak hanya menimbulkan luka emosional, tetapi juga membentuk pola pikir yang membuat individu ragu untuk berkembang dan berperan aktif di lingkungan yang baru. Hal tersebut memengaruhi keberanian seseorang untuk berorganisasi lagi dan berinteraksi di lingkungan sosial yang baru.
Saya sempat mengalami hal serupa, saya enggan mengikuti organisasi kampus di tahun pertama saya berkuliah karena rasa takut dan pengalaman buruk di masa lalu. Pikiran bahwa “organisasi di kampus akan sama saja seperti di sekolah atau bahkan mungkin akan lebih parah”, membentuk keyakinan negatif yang tanpa disadari memengaruhi perilaku saya. Dari situ saya mulai menyadari bahwa pengalaman masa lalu memang dapat membentuk cara seseorang menghadapi situasi sosial baru. Saat itu, saya benar-benar yakin bahwa menjauh dari organisasi adalah cara terbaik untuk melindungi diri dari rasa takut dan tekanan yang mungkin akan muncul kembali.
Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ketakutan itu harus dilawan. Dengan menghindari situasi, saya memang merasa aman untuk sementara, tetapi di sisi lain saya menutup peluang untuk berkembang. Menyimpan rasa takut hanya akan membuat perasaan itu tumbuh semakin besar dan perlahan mengendalikan cara berpikir serta bertindak seseorang. Saya akhirnya mulai memahami bahwa berani tidak selalu berarti tidak merasa takut, tetapi memilih untuk terus melangkah walaupun diiringi dengan rasa takut. Saat mulai mencoba terlibat dalam kegiatan kampus, saya sadar bahwa tidak semua pengalaman akan berakhir buruk. Justru dari interaksi serta pengalaman baru itulah saya belajar untuk membangun kepercayaan diri, memahami orang lain, dan menemukan versi diri yang lebih kuat. Perlahan, saya belajar bahwa perubahan tidak akan datang jika saya terus bersembunyi di balik rasa takut. Setiap langkah yang saya ambil, menjadi tanda bahwa saya mampu meski tidak selalu sempurna.
Pengalam tersebut menunjukkan bahwa masa lalu memiliki peran besar dalam membentuk cara seseorang memandang lingkungan dan mengambil keputusan di masa kini. Menurut Albert Bandura (1977) melalui teori belajar sosial, menjelaskan bahwa pembelajaran terjadi melalui pengamatan dan interaksi sosial, bukan hanya dari pengalaman langsung. Ketika pengalaman yang didapat bersifat positif, seseorang cenderung meniru dan mengulang hal yang sama karena dianggap membawa hasil yang baik. Sebaliknya, jika pengalaman yang terjadi bersifat negatif, individu biasanya akan menjadikannya sebagai pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan serupa di masa depan.
Dari proses itulah seseorang belajar menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan membentuk keyakinan terhadap kemampuannya sendiri. Bandura (1977) menjelaskan hal ini melalui konsep self-efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengorganisasi dan melaksanakan tindakan yang diperlukan guna mencapai hasil tertentu. Keyakinan ini berperan penting dalam menentukan bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bertindak ketika menghadapi tantangan. Individu dengan self-efficacy yang tinggi cenderung percaya bahwa ia mampu mengatasi hambatan dan mengambil resiko untuk berkembang. Sedangkan mereka yang memiliki self-efficacy yang rendah lebih mudah merasa cemas, ragu dan memilih menghindar dari situasi yang menantang.
Dalam konteks kehidupan kampus, hal ini dapat terlihat dari sejauh mana seorang mahasiswa percaya pada kemampuannya sendiri ketika dihadapkan pada kesempatan untuk berorganisasi atau berinteraksi sosial. Seperti ketika saya mulai berani mengambil langkah kecil untuk keluar dari zona nyaman, tanpa sadar saya sedang membangun self-efficacy dalam diri saya sendiri. Setiap pengalaman positif yang saya alami memperkuat keyakinan saya bahwa saya mampu berkontribusi dan beradaptasi di lingkungan baru. Rasa percaya diri tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh dari proses berani mencoba dan belajar dari setiap pengalaman, sekecil apa pun itu.
Oleh Nurul Isnandhari Safitri anggota UKM LPM Dinamika UIN Raden Mas Said Surakarta
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0