Jakarta, Mahasiswa.co.id – Sebanyak 500 mahasiswa dari berbagai kampus Nahdlatul Ulama yang tergabung dalam BEM PTNU se-Nusantara memenuhi kawasan depan kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Mereka datang bukan sekadar membawa poster, tetapi membawa kegelisahan kultural yang tak bisa lagi dibungkam.
Menurut Presidium Nasional BEM PTNU se-Nusantara, Achamad Baha’ur Rifqi, aksi ini merupakan respons atas tayangan Trans7 yang dinilai menyinggung Kiai dan Pondok Pesantren. Di atas mobil komando, suaranya menggema lantang di tengah barisan mahasiswa yang membentangkan bendera merah putih sepanjang 200 meter—simbol bahwa mahasiswa NU cinta tanah air dan berjuang dengan semangat kebangsaan.
“Ketika banyak orang bilang penghormatan santri pada kiai adalah feodalisme, kami jawab tegas: itu bukan feodalisme. Itu adalah adab dan etika ilmu,” ujar Achamad Baha’ur Rifqi.
Ia menegaskan bahwa bangsa yang kehilangan adab bukan bangsa yang sedang maju, tetapi bangsa yang kehilangan arah. “Kami tidak memuja kiai sebagai penguasa,” ucapnya, “tapi kami menghormatinya sebagai perantara ilmu dan pembentuk moral bangsa.”
Menurut Rifqi, seruan boikot yang digaungkan bukan lahir dari amarah sesaat. Ia menyebutnya sebagai ijtihad moral santri untuk menjaga marwah pesantren dari pemberitaan yang dianggap mencederai kehormatan para kiai dan lembaga pendidikan Islam tradisional.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pesantren besar menjadi bahan pemberitaan kontroversial. Rifqi menyampaikan: “Kemarin Pondok Pesantren Al-Khoziny, terus Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Somalangu… besok pondok mana lagi? Ini adalah upaya pembusukan kyai dan pesantren Nusantara.”

Komentar 0