Perjalanan Emosional yang Tak Terduga
Sebelum nonton Better Man, jujur saya nggak tahu banyak tentang Robbie Williams. Musiknya asing di telinga saya. Satu-satunya alasan saya tertarik adalah karena film ini disutradarai oleh Michael Gracey, orang di balik The Greatest Showman—salah satu film favorit saya. Awalnya saya pikir ini cuma akan jadi biopik musisi biasa. Tapi ternyata, Better Man justru jadi pengalaman yang sangat personal dan emosional, yang berhasil menyentuh hati saya meski saya bukan penggemar Robbie.
Dari Anak Terbuang Jadi Bintang
Film ini membentangkan kisah hidup Robbie dari kecil hingga jadi superstar. Sejak kecil, ia sering dianggap remeh—anak yang merasa diabaikan dan kesepian. Salah satu luka paling dalam adalah ketika sang ayah pergi nonton final sepak bola di Wembley dan nggak pernah pulang. Ia tumbuh bersama ibu dan neneknya, sambil terus mencari pengakuan dan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan. Dan rasa kehilangan itu ikut membentuk perjalanannya di dunia musik.
Jatuh, Bangkit, dan Hidup dengan Caranya Sendiri
Robbie sempat bersinar bersama Take That, tapi justru dikeluarkan saat mereka sedang di puncak. Ia harus memulai karier solo di usia muda, menghadapi tekanan publik, kecaman media, dan pergulatan pribadi—termasuk ketergantungan pada narkoba. Tapi yang bikin Better Man begitu kuat adalah bagaimana film ini menampilkan sisi rapuhnya tanpa menghakimi. Salah satu adegan paling menggetarkan adalah saat ia menyanyikan “My Way” di Royal Albert Hall, berdiri di panggung bersama ayahnya—momen simbolik yang penuh pengampunan dan penerimaan diri.
Pilihan Visual yang Aneh Tapi Kena
Yang bikin Better Man unik adalah keputusan artistik yang cukup mengejutkan: sosok Robbie digambarkan sebagai figur mirip kera, bukan manusia biasa. Awalnya saya bingung, bahkan merasa aneh. Tapi lama-lama saya sadar—ini adalah metafora visual tentang bagaimana Robbie melihat dirinya sendiri: berbeda, terasing, tapi tetap percaya diri dalam keunikannya. Sentuhan surealis ini justru membuat film ini terasa lebih jujur dan berani dibanding biopik konvensional.
Kesimpulan: Flop Secara Komersial, Tapi Nggak Slop Secara Emosional
Better Man mungkin nggak sukses di box office, tapi jelas bukan film yang buruk. Ia justru menyajikan biopik dengan pendekatan yang segar, emosional, dan berani. Ini bukan film yang mengandalkan hits atau nostalgia, tapi kisah tentang keberanian untuk tetap hidup dengan caranya sendiri, meski penuh luka. Dan bagi saya, itu jauh lebih bermakna.
Rating saya: Real Love/10
Karena film ini bukan soal angka, tapi soal rasa. Kamu akan merasakan cinta yang tulus dari Robbie—baik terhadap hidupnya, musiknya, maupun penonton yang mencoba memahami siapa dia sebenarnya.

Komentar 0