Sleman, Yogyakarta, Mahasiswa.co.id – Kepedulian sosial mahasiswa Universitas Gadjah Mada kembali terwujud melalui program Pelita Gadjah Mada, sebuah gerakan pengembangan karakter yang digagas oleh Direktorat Kemahasiswaan UGM melalui Subdirektorat Karakter. Salah satu program unggulannya adalah HERBAVIBE: Gaya Hidup Sehat dengan Tanaman Herbal, yang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan promosi gaya hidup sehat berbasis kearifan lokal. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Tanjung, Sleman, dengan tujuan menciptakan desa wisata herbal yang mandiri dan berkelanjutan. HERBAVIBE tidak hanya membawa semangat kepemimpinan mahasiswa, tetapi juga menghadirkan solusi nyata yang berbasis komunitas.
Program ini digagas oleh Ricky Putra Pangestu, mahasiswa Kimia FMIPA UGM, yang bekerja sama dengan Saptono Budi Samodra, Ketua Desa Wisata Tanjung. Melalui pendekatan kolaboratif, HERBAVIBE menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan kampus dan praktik sosial di masyarakat. Kolaborasi ini mencerminkan bagaimana mahasiswa dapat berperan aktif dalam pengembangan desa berbasis potensi lokal. “Kami ingin kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar memberikan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Ricky dalam sambutannya. Keterlibatan masyarakat menjadi elemen kunci keberhasilan program ini.
HERBAVIBE dilaksanakan dalam tiga kegiatan utama yang saling melengkapi dan mendukung pengembangan kawasan wisata jamu. Kegiatan pertama diselenggarakan pada Minggu, 18 Mei 2025, dengan menghadirkan Bapak Sutrisno, penggerak desa wisata jamu dari Desa Kiringan, sebagai narasumber utama. Acara dibuka oleh Ketua Desa Wisata Tanjung dan Ketua Tim HERBAVIBE, serta dihadiri oleh puluhan warga desa, khususnya para ibu-ibu. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan tanaman herbal di lingkungan sekitar, metode pengolahan, serta penguatan kelembagaan desa wisata. Dalam sesi interaktif, Bapak Sutrisno menyampaikan, “Banyak tanaman herbal di sekitar kita, tapi belum semua tahu cara pengolahan yang tepat.”
Peserta juga diajak melakukan gerakan sederhana untuk mengenali potensi gangguan kesehatan serta berdiskusi tentang pemanfaatan TOGA dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan praktis ini membuat warga lebih memahami manfaat tanaman herbal, tidak hanya untuk kesehatan tetapi juga sebagai peluang usaha. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan dan keterlibatan aktif selama sesi berlangsung. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat fondasi desa sebagai destinasi wisata edukatif yang berbasis tradisi. Selain menambah pengetahuan, sesi ini juga mendorong kepercayaan diri warga dalam mengelola potensi lokal mereka.

Komentar 0