Kisah Inspiratif Asti, Nuclear Amino yang Mampu Menembus Gerbang Perguruan Tinggi
Oleh Redaksi
Penganugerahan golden ticket, uang pembinaan, dan sertifikat kepada Asti Indah Nariswari atas prestasinya sebagai penulis karya tulis terbaik pada Cabang Lomba Anak Petani Berprestasi di Olimpiade Pertanian Indonesia yang diadakan oleh Institut Pertanian
Surakarta, Mahasiswa.co.id - Asti Indah Nariswari, anak perempuan pertama dari dua bersaudara. Asti berusia 17 tahun yang sekarang duduk di bangku kelas 3 salah satu SMA di Kabupaten Pati, SMA N 1 Jakenan lebih tepatnya. Mungkin banyak yang belum kenal dan terasa asing jika mendengar daerah Jakenan. Jakenan memang daerah yang pelosok, namun semangat dan tekad Asti bukanlah mental anak pelosok, walaupun Asti tidak banyak bicara namun menyimpan tekad yang besar. Menjadi anak seorang petani yang tinggal di desa bukanlah suatu hal yang dapat meredamkan mimpi Asti untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Justru dengan asrinya lingkungan desa yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan, asap pabrik, dan gedung tinggi menjulang seperti di perkotaan.
Nuclear Amino, hasil fermentasi kulit nanas dengan rizobakter bambu yang dapat menghasilkan maggot amino. (Asti Indah Nariswari)
Banyak ide cemerlang Asti yang muncul dengan melihat kondisi lingkungan sekitar. Ide sederhana untuk mengubah fungsi kulit nanas yang difermentasi dengan rizobakteri bambu dan menghasilkan maggot amino. Maggot amino yang dihasilkan dapat digunakan untuk media tanam secara berkelanjutan dan ramah lingkungan tentunya. Ide sederhana tersebut yang menjadi penghantar Asti untuk dapat mewujudkan mimpinya. Betul sekali, mimpi untuk bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang sudah di impikannya sejak lama, tidak lain dan tidak bukan adalah Institut Pertanian Bogor.
Bukan hanya untuk pembuktian bahwa bisa dan mampu, namun juga untuk rasa tenang bagi orang tua di rumah. Asti berhasil mengalahkan ratusan peserta dan berhasil memenangkan nominasi karya tulis terbaik pada cabang lomba Anak Petani Berprestasi. Menjadi pemenang tentunya mendapatkan benefit yang akan dirasakan oleh Asti. Golden ticket, uang pembinaan, dan sertifikat pada lomba Olimpiade Pertanian Indonesia (OPI) 2025 berhasil didapatkan Asti.
OPI merupakan event perlombaan rutin yang diselenggarakan langsung oleh Institut Pertanian Bogor di setiap tahunnya. Salah satu event yang menghasilkan bibit-bibit unggul melalui jebolan pemenang yang dihasilkan. Namun selain hal tersebut, terdapat sisi dari diselenggarakannya OPI yang belum banyak orang ketahui, yaitu tentang harapan yang disimpan dari golden ticket yang diberikan untuk bisa melanjutkan pendidikan demi masa depan. Tidak jarang bagi siswa-siswi yang sedang duduk di bangku kelas 12 pasti merasakan kegelisahan, keraguan, kebingungan, dan rasanya dikejar-kejar oleh semuanya. Dikejar oleh impian, masa depan, realita, harapan orang tua, dan masih banyak lagi. Tak jarang muncul pertanyaan tentang “bagaimana selanjutnya” kepada diri sendiri. Hal seperti itu juga dirasakan oleh Asti tentunya, namun dengan berhasilnya dia memperoleh golden ticket dari perlombaan OPI, memberikan sedikit rasa lega karena jalan menuju gerbang IPB sudah terbuka. Satu langkah kedepan sudah teramankan. Bagaimana tidak? Ketika siswa lain masih bingung mau bagaimana dan kemana, langkah Asti sudah jelas dan dibukakan gerbangnya.
Selain kepada orang tua, pembuktian untuk diri sendiri juga menjadi alasan Asti bahwa anak desa dari seorang petani juga bisa memiliki kesempatan yang sama seperti orang lain diluar sana dan tidak dianggap rendah begitu saja. Asti memperjuangkan golden ticket dalam lomba OPI untuk bisa masuk IPB, kampus impiannya. Duduk di bangku kelas 12 SMA pastinya banyak hal yang harus dihadapi. Ujian akhir sekolah, rencana untuk langkah kedepannya, belum lagi harapan orang tua dan orang sekitar. Walaupun harapan tidak terlihat secara fisik, namun bebannya sangatlah terasa dan menguras energi.
Perjalanan Asti dalam lomba OPI ini pun melewati banyak hal dan berlika-liku ujarnya. Diawali dengan penyusunan naskah esai, dilanjutkan dengan seleksi 3 terbaik di setiap daerah provinsi di seluruh Indonesia, lalu wawancara, presentasi di depan juri, penyusunan konsep video, editing, hingga grand final. Bukan hanya itu, Asti serasa mendapatkan surprise ketika babak penyisihan melalui wawancara berlangsung. Tidak disangka para juri bertanya dengan menggunakan Bahasa Inggris, rasa deg-deg an dan panik bercampur menjadi satu ujar Asti. Meskipun begitu, proses seleksi wawancara harus tetap berlangsung dan Asti harus siap sedia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para juri. Asti berhasil menjadi salah satu dari 5 terbaik dan berkesempatan untuk datang langsung ke IPB untuk penganugerahan prestasi. Beberapa langkah tersebut merupakan proses dari alur perlombaan yang jelas terlihat, disamping itu adapun alur proses Asti untuk tidak pantang menyerah, menahan rasa ngantuk, kurangnya waktu tidur, menyiapkan mental, dan selalu bilang “ya” ketika ada panggilan dari pembimbing yang tidak banyak orang tau.
Kalian percaya tentang hal random yang bisa memberikan inspirasi tidak? Jika kalian setuju, mungkin kalian sefrekuensi dengan Asti. Asti mengaku sering mendapatkan ide untuk bahan isi naskah esainya melalui hal-hal yang random. Terkadang ketika duduk nyantai sambil lihat tanaman atau tanah basah, tiba-tiba kepikiran kalimat pembuka esai. Dari tempat tak terduga yang mendatangkan inspirasi, nama-nama unik yang menjadi ide di luar nalar. Hal itu terjadi ketika Asti ngobrol bareng dengan Pak Suhadi, salah satu Guru Sosiologi di SMA N 1 Jakenan yang ahli juga dalam bidang penelitian pertanian. Kala itu, Asti dengan Pak Suhadi ngobrol random tentang nuklir. Dari obrolan ringan membahas nuklir tersebut, dan jika dipikir-pikir, aneh dan seperti tidak ada kaitannya tentang hubungan antara nuklir dengan penelitian pertanian?. Namun, dari obrolan random itulah judul essay Asti didapatkan. Yaitu “Nuclear Amino : Fermentasi Kulit Nanas dan Rizobakter Bambu Penghasil Maggot Amino Untuk Media Tanam Berkelanjutan”. Siapa sangka dari hal-hal yang random bisa menjadi pembuka gerbang impian Asti untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Nama Penulis : Aulia Nur Saddah
Biodata Penulis : Aulia merupakan mahasiswa semester tiga Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS). Aktif dalam kegiatan organisasi dan kepenulisan, ia memiliki ketertarikan pada isu sosial, pendidikan, dan pengembangan generasi muda. Beberapa karyanya di bidang kepenulisan dan inovasi sosial pernah meraih penghargaan.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0