Kisah Inspiratif: perjuangan seorang ayah, semua demi keluarga
Oleh Redaksi
Penulis: Hasan Ismail
Mahasiswa.co.id - Suara bedug masjid mulai terdengar, diikuti lantunan adzan yang menandakan waktu shubuh telah tiba. Kimal seorang pedagang cilor bersiap memulai aktivitasnya menyambut pagi dengan harapan yang sama setiap harinya yaitu mendapatkan rezeki bagi ia dan keluarganya. Kimal pedagang cilor disalah satu sekolah madrasah Tsanawiyah negeri Sukahaji adalah teman saya yang berusia 24 tahun.
Meski terpaut usia cukup jauh tapi saya dan dia bisa saling kenal karena Kaka saya adalah teman seangkatan dari kimal. Sejak kecil saya sudah tau bagaimana kisah kimal yang merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara dan merupakan anak dari salah satu tokoh agama yang cukup penting di desa saya, menjadi anak dari salah satu pendakwah di desa tentu bukanlah perkara yang mudah, selalu berada di bawah bayangan sang ayah membuat kimal pun tak jarang berkeluh-kesah kepada saya ketika sedang berkumpul. Wajar saja kimal cukup sering berkeluh-kesah tentang kehidupannya karena memang dia sendiri mengakui bahwa ia tidak bisa mengikuti jejak sang ayah yaitu menjadi tokoh agama yang bermanfaat bagi masyarakat, sebenarnya kimal dan keluarganya pun bisa menerima itu karena nasib orang memang berbeda-beda akan tetapi omongan tetangga itulah yang membuat kimal kadang merasa jengkel.
Tak mau terus memikirkan omongan dari tetangga selepas lulus sekolah kimal langsung mencari kerja ke luar kota yaitu Tasikmalaya guna mencari peruntungan siapa tahu bisa mendapatkan gaji yang lumayan bagi dirinya. Tapi apa hendak di kata usaha kredit tempat ia bekerja tak mampu memenuhi keinginan kimal supaya punya uang yang lebih agar bisa ia pakai untuk kehidupan sehari hari. Kimal akhirnya memutuskan untuk kembali ke Majalengka dengan membawa uang hasil tabungan selama ia bekerja di Tasikmalaya untuk kimal gunakan untuk menikahi kekasihnya yang sudah lama menjalin hubungan bersama.
Dengan pernikahan yang sederhana ia akhirnya hidup bersama orang yang ia cintai dan memulia usaha berdagang cilor dan menyediakan rental WiFi di warungnya. Wajar saja karena memang pada saat itu cilor Tengah banyak digandrungi masyarakat Indonesia khususnya di Jawa barat sebagai salah satu cemilan baru. Ide usaha cilor pun mulai dilakukan oleh kimal dan istrinya di halaman rumah yang memang agak luas dan pas bagi anak-anak yang ingin nongkrong sambil makan cilor dan bermain game online (mobile legend) bersama para teman-temannya.
Namun sayang ditengah ramainya usaha yang ia buat, wabah covid 19 mulai menyerang Indonesia dan pemerintah menetapkan status lockdownd di Indonesia yang membatasi kegiatan publik dan berkumpul untuk waktu yang tak menentu. Alhasil usaha cilor kimal yang pada awalnya selalu ramai dari mulai siang ia mulai berjualan sampe tengah malam mulai sepi dari pembeli, bahkan sempat dilarang berjualan dan makan di tempatnya karena pembatasan keramaian tersebut. Rasanya bukan hanya kimal yang bingung pada saat covid 19 menyerang tetapi semua elemen masyarakat dunia merasakan dampak yang hebat dari pandemi ini. Tapi kimal tetap berusaha tegar dan mencoba tetap berjualan cilor meski warungnya tak boleh disinggahi anak-anak atau remaja yang ingin bermain WiFi.
Di Tengah kondisi covid yang semakin meraja lela di setiap harinya, kimal mendapatkan kabar bahagia yaitu istrinya mbak Imas tengah mengandung anak pertama mereka. Kebahagiaan jelas tak bisa disembunyikan oleh kimal dan sang istri bahkan ketika saya melakukan wawancara inipun kimal masih terharu mengingat kisah ini. Wabah covid masih berlanjut akan tetapi masyarakat di desa palabuan saat itu mulai melonggarkan aturan ketat dari pemerintah dalam hal berkumpul di ruang terbuka hingga usaha dari kimal yaitu cilor dan WiFi mulai ramai kembali. Akan tetapi hal yang tidak mengenakkan datang bagi kimal anak pertama yang sudah lama dinantikan harus meninggal dunia tepat setelah ia lahir ke dunia, jelas ini merupakan pukulan telak baginya dan sang istri kelahiran anak pertama yang sudah dinantikan malah menghadirkan kesedihan yang mendalam.
Kesedihan pastinya ada dan dalam diri kimal, tapi sebagai seorang suami dan kepala keluarga ia tentu harus bersikap tegar atas semua yang terjadi supaya ia bisa menjadi salah satu alasan agar istrinya bisa melupakan kematian sang anak pertama. Setelah kurang lebih 3 taun sudah berlalu dimana Kimal tetap menjalani bisnisnya yaitu berjualan cilor akan tetapi Kali ini ia berjualan di salah satu area sekolah madrasah Tsanawiyah negeri Sukahaji yang membuat ia mempunyai lapak untuk berjualan di sana. Ketika jam sekolah tiba Kimal akan berjualan di dalam area sekolah, ketika jam sekolah selesai ia akan pindah ke depan area sebelum sekolah madrasah Tsanawiyah untuk mangkal disana hingga jam 10 malam.
Kegiatan tersebut terus ia lakukan setiap harinya, pasang surut pendapatan pastinya dialami dalam setiap harinya akan tetapi kimal tak punya pilihan lain ia harus terus berjualan dan tidak bisa jauh dari sang istri yang Alhamdulillahnya baru saja melahirkan anak kedua mereka yang kali ini bisa selamat dan tentu menjadi salah satu alasan kuat kimal untuk semangat dalam berjualan. Setiap harinya kimal mengatakan mulai bersiap untuk berjualan dari jam 6 pagi dia pertama mempersiapkan adonan cilor nya terlebih dahulu yang sudah dibuat oleh sang istri, setelahnya ia mempersiapkan bahan seperti telur, dan bumbu-bumbu penyedap rasa untuk tambahan cilornya, kegiatan itu rutin ia lakukan dari Senin sampai Sabtu, hanya ketika Minggu mungkin ia kadang berjualan kadang tidak ucapnya.
Dengan bergantung pada sebuah gerobak yang selalu menjadi teman kerjanya setiap hari kimal juga tentu berharap penghasilan yang ia dapat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kimal selalu bersyukur atas pencapaiannya sejauh ini ia selalu berpendapat kerja apapun itu asalkan halal maka lakukanlah tidak perlu malu.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0