Mahasiswa.co.id - Georg Lukacs merupakan kritkus sastra Marxis yang paling dekat dengan pemikiran Marx. Sebelum berkenalan dengan teori Marx, Lukacs banyak menaruh perhatian pada aliran neo-Kantian dan metode analisis ilmu sosialnya. Dilthey, Georg Simmel, dan Max Weber—yang sedang menjadi filsuf trend pada zamannya. Perkenalannya dengan Marx dimulai ketika ia melanjutkan studi estetika dan filsafat di Berlin. Komitmen Lukacs pada pemikiran Marxis tidak hanya tampak dalam setiap karya tulisnya, tapi juga keterlibatannya dengan partai politik komunis di Hungaria Ia lahir 13 April 1885 dengan nama Georgi Bernat Lowinger dari lingkungan keluarga bangsawan kaya di Budapes, Hungaria. Lima tahun kemudian ayahnya, Joszef von Lukacs, seorang manajer Bank, mengganti namanya menjadi Georg Lukacs.
Meskipun lahir di tengah lingkungan budaya Hungaria, ia lebih banyak berbicara tentang kultur dari filsafat Jerman. Ia merasa kurang puas dengan tradisi tanah leluhurnya, seperti yang diungkapkan dalam His Life in Picturees and Document tentang kebudayaan Hungaria, antara lain:
”Sesudah pada tahu bahwa saya berasal dari keluarga kapitalis dari Lipotvaros (salah satu Distrik di Budapes yang kebanyakan warganya berasal dari kalangan kelas menengah). Tanpa memberikan data biografis kepada pembaca, secara singkat saya bisa mengatakan bahwa sejak masih kecil saya sungguh tidak puas dengan cara hidup Lipotvaros. Bersamaan dengan ketidakdewasaanku waktu itu keinginan menentang itu meluas ke segala bidang kehidupan, dari politik sampai sastra.”
Seni Realisme yang Baik Menurut Georg Lukacs
Seni yang indah menurut Lukacs adalah yang mengungkapkan kebenaran realitas. Kebenaran dalam konsepsi Lukacs adalah jika realitas dipahami dalam totalitasnya. Pemahaman akan realitas total hanya terjadi jika seniman mampu memahami gerak dialektik dari realitas. Memahami adalah mengerti dengan melibatkan seluruh kesedaran diri.
Ilmu pengetahuan sebenarnya juga merupakan refleksi dari realitas. Tapi refleksi seni bersifat deantropomorfis, sedangkan refleksi seni bersifat antropomorfis. Refeklsi ilmu pengetahuan hanya berhenti pada pengertian tentang realitas itu sendiri. Sedangkan refleksi artistik dalam seni lanjut membawa pemahaman itu kembali pada kesadaran manusia.
Ia memahami bahwa ke-ada-an (being) suatu realitas terlepas dari wujud obyektifnya yang kelihatan. Menurut Lukacs pada saat seseorang melihat sesuatu, ia hanya mampu menangkap manifestasi dari suatu realitas obyektif, tapi belum mampu menembus intisari dari suatu realitas. Selanjutnya ketika seseorang berusaha untuk memahami, pada saat yang sama orang itu juga berada dalam proses melampui kesenjangan antara ”yang tampak” dan esensinya.
Dan menurutnya seni mampu mencapai proses itu karena seni merupakan refleksi dari esensi realitas obyektif. Reflektif merupakan terminologi yang dipakai Lenin untuk menjelaskan teori dialektika materialisme Marx.
Ia menegaskan bahwa seorang seniman, sebut saja sastrawan, mempunyai tanggung jawab etis terhadap proses pembebasan manusia dari segala bentuk kepalsuan. Tanggung jawab itu bukan sekedar sebagai suatu kewajiban yang diciptakan oleh suatu sistem dari luar, melainkan dari pemahaman sastrawan terhadap eksistensi manusia di tengah perkembangan gerak histrorisnya. Dengan kata lain, ia menempatkan realisme bukan sekedar sebagai metode tapi sekaligus sebagai kriteria seni-sastra. Menurut lukacs yang menentukan sikap penulis bukan semata-mata persoalan psiko-emosional, melainkan gerak perkembangan masyarakat.
Menurut catatan Kołakowski, ia adalah satu-satunya pemikir yang mempelajari ajaran fundamental Lenin dan membahasakannya dalam tradisi Jerman. Selebihnya Kołakowski mencatat bahwa gagasan Lukacs tentang Lenin banyak dipakai oleh pemikir Barat, bahkan termasuk pemikir Partai Komunis Rusia. Lukacs mencoba selalu konsisten terhadap pemikiran Marx. Karena itu, ia tak segan-segan melontarkan kritik tajam terhadap Partai Komunis yang dianggap tidak konsisten dengan prinsip dialektika materialime historisnya Marxis.
Ia pun memberikan garis besar yang jelas antara sastra realis dan ideologi politik. Ia bisa menerima kedekatan hubungan realisme dengan politik, namun dalam artian tidak dipahami sebagai kekuasaan praktis. Namun sayangnya, usahanya tidak menemukan jalan lurus karena dalam perkemabangannya, realis justru lahir dan berkembang di negeri yang sarat dengan persoalan politik. Usahanya pun menemui jaLan buntu ketika kepentingan politik partai komunis, terutama masa Stalin, masuk ke dalam tradisi realisme Rusia.
Gerakan kesenian pendukung rencana pembangunan Soviet tidak sepenuhnya didasarkan pada dialektika materialisme yang menjadi prinsip pengetahuan sejarah Marx. Bahkan dalam pertemuan pertama dengan para penulis Soviet, Gronsky menegaskan bahwa dialektika materialisme bukanlah syarat utama untuk menghasilakan karya-karya yang secara ideologis bernilai.
Dengan pernyataan itu Gronsky juga telah mengesampingkan prinsip materialiasme dialektika kreatif yang menjadi metode utama para penulis anggota Asoisasi Penulis—penulis proletar Rusia. Bagi Gronsky yang penting adalah menempatkan metode yang dilihat paling dekat kaitannya dengan kepentingan partai.

Komentar 0