Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Mahasiswa Untag Surabaya ajak warga rungkut tengah produksi sabun cuci tangan ekonomis

Untag Surabaya

SURABAYA, Mahasiswa.co.id – Kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kebersihan lingkungan menjadi kunci utama dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera. Sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap hal tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di RW 04 dan RW 05, Kelurahan Rungkut Tengah, Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 29 November 2025 ini mengusung tema edukasi perilaku hidup bersih serta pelatihan pembuatan sabun cuci tangan mandiri yang bernilai ekonomis.

Program pengabdian masyarakat ini diinisiasi oleh Mahasiswa Universitas 17 Agustu 1945 Surabaya yang terdiri dari Yosi Wulandari, Gladys Ekasuni Rasullah R, Mochamad Gilang Hady, Gigih Rahman Anugrah H, dan Rafli Amrulloh, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Cintya Agustina Yuristasari, S.H., M.H. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh temuan di lapangan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami secara mendalam tentang enam langkah mencuci tangan yang benar sesuai standar WHO. Selain itu, faktor ekonomi sering kali menjadi hambatan bagi warga untuk menyediakan sabun cuci tangan cair secara rutin di rumah masing-masing, padahal sabun adalah instrumen vital dalam memutus rantai penyebaran penyakit.

Dalam sesi penyuluhan, mahasiswa menekankan bahwa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus dimulai dari kesadaran diri sendiri, terutama kebiasaan mencuci tangan pakai sabun (CTPS). Warga diberikan pemahaman bahwa tangan merupakan media utama penyebaran berbagai penyakit menular seperti diare, ISPA, dan infeksi kulit. Oleh karena itu, edukasi ini tidak hanya sekadar teori, namun juga disertai demonstrasi langsung mengenai waktu-waktu krusial mencuci tangan, seperti sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah beraktivitas di luar rumah agar kuman tidak berpindah ke anggota keluarga lainnya.

Antusiasme warga, khususnya ibu-ibu PKK, terlihat sangat tinggi ketika memasuki sesi pelatihan pembuatan sabun cuci tangan cair. Mahasiswa memperkenalkan formulasi sabun sederhana yang menggunakan bahan dasar seperti Texapon, garam (NaCl), air, dan ekstrak sereh atau pewangi. Pemilihan bahan ini didasarkan pada kemudahan akses dan biaya yang sangat terjangkau dibandingkan membeli produk pabrikan. Mahasiswa mendemonstrasikan cara mencampur Texapon sebagai pembersih aktif dengan garam yang berfungsi sebagai pengental, kemudian dilarutkan dengan air hingga menjadi sabun cair yang siap pakai dan higienis.

Aspek ekonomi menjadi daya tarik utama dalam pelatihan ini, di mana warga diajak untuk melihat peluang penghematan anggaran rumah tangga. Berdasarkan perhitungan yang dipaparkan, biaya produksi sabun buatan sendiri ini hanya berkisar Rp 10.000 per liter, jauh lebih murah dibandingkan sabun merek komersial yang harganya bisa mencapai Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per liter. Jika diasumsikan satu keluarga menghabiskan 5 liter sabun per tahun, maka setiap rumah tangga dapat menghemat pengeluaran hingga ratusan ribu rupiah, bahkan membuka peluang usaha rumahan (UMKM) baru bagi warga Rungkut Tengah.

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti hanya pada pelatihan satu hari saja, melainkan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh warga RW 04 dan RW 05. Dengan kemampuan memproduksi sabun sendiri, ketersediaan sarana cuci tangan di setiap rumah akan terjamin tanpa membebani keuangan keluarga. Hal ini sejalan dengan target luaran kegiatan, yaitu terciptanya lingkungan yang sehat, mandiri, dan bebas dari penyakit menular melalui pemberdayaan masyarakat yang kreatif dan inovatif.

Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menyatakan bahwa sinergi antara mahasiswa dan masyarakat ini merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui transfer ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna yang sederhana, mahasiswa berharap dapat memberikan dampak positif jangka panjang. Warga kini tidak hanya memiliki pengetahuan tentang kesehatan, tetapi juga memiliki keterampilan teknis (hard skill) untuk menciptakan produk yang bermanfaat bagi kebutuhan sehari-hari maupun potensi wirausaha.
Penulis: Tim Pengabdian Masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.