Peningkatan Self Confidence Dalam Ruang Lingkup Pendidikan Formal Melalui Program Storytelling di UPT SDN 066049 Medan Bersama Mahasiswi Kesejahteraan Sosial FISIP USU
Oleh Redaksi
Mahasiswa.co.id - Kepercayaan diri merupakan sikap yang sangat perlu dimiliki oleh setiap siswa. Karena dengan kepercayaan diri siswa akan mudah mengungkapkan gagasan dalam pikirannya dalam pembelajaran. Siswa dengan kepercayaan diri yang kurang akan terhambat dalam mencapai prestasinya. Kurangnya kepercayaan diri membuat mereka banyak yang tidak dapat memperoleh hasil maksimal dalam pembelajaran.
Mahasiswa sebagai seorang agen perubahan sudah selayaknya turun ke lapangan untuk memecahkan masalah yang ada, praktikan menyadari bahwa kepercayaan diri dalam proses pembelajaran di kelas harus dimiliki oleh siswa sekolah dasar, hal ini untuk dikarenakan agar tidak menghambat prestasi peserta didik. Anak- anak yang sejak dini sudah memiliki kepercayaan diri dalam pembelajaran di sekolah akan menjadikan mereka pribadi yang aktif dalam mengungkapkan ide dan gagasan di kedepannya.
R.A Roro Galuh Wigati (190902072 ) mahasiswa dari prodi Kesejahteraan Sosial FISIP USU, melakukan praktik di UPT SDN 066049 Medan Helvetia. Dengan adanya praktik ini memberikan kesempatan kepada Galuh untuk dapat menerapkan metode praktik pekerjaan sosial yang selama ini didapatkan dibangku kuliah. Praktek Kerja Lapangan ini sendiri dibimbing oleh Supervisor Sekolah yaitu Ibu Mia Aulina Lubis S.Sos, M.Kesos dan Dosen Pengampu Mata Kuliah PKL yaitu Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos, M.Kesos.
Pada pertemuan awal Galuh bersama dengan dosen pembimbing lapangan bertemu dengan kepala sekolah UPT SDN 066049 yaitu bapak Denhasri Filemon Manullang S.Pd untuk melakukan kesepakatan agar dapat melaksanakan praktik. Galuh menjelaskan mengenai program yang akan ia jalankan selama 4 bulan terhitung dimulai dari bulan maret sampai dengan juni. Adapun program yang akan galuh jalankan yaitu program Storytelling.
Dalam praktikum kali ini, dalam menjalankan program galuh menggunakan metode pada level intervensi mezzo dalam metode intervensi groupwork. Praktikum 2 diwajibkan melakukan mini project guna menyelesaikan masalah pada klien dengan metode intervensi groupwork. Dikatakan kelompok karena terdiri dari dua orang atau lebih dan mereka saling berinteraksi satu sama lainnya secara langsung, dimana mereka sadar keberadaan mereka sebagai anggota kelompok dan mempunyai sifat ketergatungan satu dengan yang lain, serta mencapai tujuan bersama. Berdasarkan pengertian kelompok tersebut maka kelompok dapat digunakan untuk meningkatkan keberfungsian sosial anggotanya (Adi, 2013). Untuk melaksanakan mini project dalam PKL dua, praktikan mengambil klien yaitu 4 orang siswa kelas IV dan V di UPT SDN 066049. Permasalahan dari siswa kelas IV yaitu kurangnya kepercayaan diri dari mereka dalam lingkungan pembelajaran. Hal ini dikarenakan mereka sering mendapatkan afirmasi negatif dari teman satu kelasnya ketika ingin mengungkapkan gagasan bahkan pertanyaan kepada guru. Hal ini mengakibatkan tidak efektifnya suasana kelas bagi mereka, sehingga mereka tidak memperoleh hasil maksimal dalam belajar.
Melalui metode groupwork oleh Zastrow, praktikan berusaha menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh siswa kelas IV dengan tahapan sebagai berikut:
1. Engagement, Intake, Contract: Tahap Ini merupakan kontrak awal antara pekerja sosial dengan 4 orang klien. Disini klien dilihat apakah ingin bersama-sama menyelesaikan masalah ini dengan pekerja sosial atau tidak. Galuh pada tahap ini, mulai menjelaskan kepada 4 orang klien apa itu pekerja sosial dan apa yang dilakukan pekerja sosial. Galuh juga menanyakan kesediaan klien untuk mau atau tidak dibantu untuk menyelesaikan masalahnya. Pada tahap ini keempat klien bersedia untuk dibantu dalam menyelesaikan masalah yang ia alami.
2. Assessment: Tahap ini merupakan tahap dimana pekerja sosial, berusaha mendapatkan informasi mengenai permasalahan klien serta agar mengetahui potensi apa yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah klien. Pada tahap assessment ini, galuh menggunakan tools assessment ecomap untuk lebih menggali lagi permasalahan yang ada pada diri klien. Dari hasil assessment dengan klien didapatkan bahwa keempat orang siswa kelas IV dan V UPT SDN 066049 ini sangat tidak percaya diri dalam hal berdiskusi dalam kelas. Hal ini dikarenakan banyaknya afirmasi negatif serta bentuk kekerasan fisik yang tidak menyenangkan diterima mereka jika mereka ingin bertanya atau mengutarakan gagasan mereka. Ini menyebabkan mereka terlalu takut untuk ikut bergabung dalam diskusi kelas, dan lebih memilih diam walaupun tidak mengerti. Disini galuh melihat bahwa sebenarnya keempat klien tersebut merupakan anak-anak yang memiliki kelebihan yang kurang terekspos. Diantara keempat klien tersebut ada satu siswa yang sangat pandai dalam menggambar, tetapi ia memilih untuk menyembunyikannya karena takut diejek oleh temannya. Keempat klien tersebut pada dasarnya merupakan anak periang yang merespons jika galuh mengajak bercerita.
3. Planning atau perencanaan: Tahap ini merupakan tahap pengidentifikasian masalah serta mencari cara untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan sumber-sumber yang dapat didayagunakan untuk memecahkan masalah dalam serangkaian kegiatan. Untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menyelesaikan masalah keempat klien tersebut, galuh akan menerapkan metode Storytelling nantinya.
4. Intervensi dan Formulasi Program: Tahap ini merupakan proses pelaksanaan program yang direncanakan. Disini, pekerja sosial bertindak untuk mengarahkan pada beberapa proses untuk mencapai perubahan. Dalam prosesnya, galuh mengumpulkan keempat klien dalam satu forum. Siswa UPT SD NEGERI 066049 membuat kelompok kecil yang beranggotakan 4 orang dalam satu kelompok. Setiap anak dalam satu kelompok menceritakan tentang hari-harinya atau pengalaman pengalaman baik yang dialami. Setiap anak menceritakan di depan teman sekelompoknya dan galuh. Ketika setiap anak sudah menyelesaikan ceritanya, teman kelompok beserta galuh akan memberikan apresiasi kepada sang anak.
5. Monitoring: Pada tahapan ini, praktikan melihat dan mengawasi sudah sejauh mana perkembangan yang terjadi pada klien. Dalam beberapa pertemuan yang dilakukan, sudah ada sedikit demi sedikit perkembangan yang terjadi pada mereka. Seperti di dalam kelas, galuh dalam proses belajar melibatkan keempat klien membuat kelompok diskusi yang akan mengerjakan tugas bersama-sama. galuh memperhatikan perkembangan keaktifan dan kepercayaan diri klien di dalam kelas ketika berlangsungnya proses belajar.
6. Evaluasi: Setelah melakukan intervensi, galuh juga selesai dalam melakukan penilaian melalui pengukuran terhadap perubahan atau capaian hasil intervensi pada level mezzo. Diketahui keempat siswa kelas IV dan V UPT SDN 066049 menunjukkan perubahan yang baik, dimana mereka sudah percaya diri ketika disuruh mempresentasikan hasil kerja mereka di depan kelas. Salah satu klien sudah mulai bisa mengekspresikan persaannya dengan baik. Ada juga klien yang percaya diri ketika dijadikan penanggung jawab ketika ada program penanaman pohon. Serta mereka terlihat lebih aktif ketika di dalam kelas, tidak malu bertanya ketika ada pelajaran yang masih tidak dimengerti.
7. Terminasi: Dalam tahap ini merupakan tahapan terakhir sebab tujuan yang disepakati diawal telah tercapai. Tahap terminasi bisa dilakukan karena klien sudah terlihat mampu mengatasi masalah yang ada dan mengetahui potensi mereka agar bisa lebih percaya diri sehingga tidak terjadi ketergantungan galuh memutus kontrak.
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan inipun ditutup dengan bersama-sama saling memberikan kesan pesan serta masukan untuk satu dengan yang lainnya dan mengucapkan rasa terimakasih kepada pihak panti yang sudah mengizinkan berlangsungnya proses Praktek Kerja Lapangan.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0