Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Rahasia di Balik Mesin Absensi Fingerprint, Mahasiswa Telkom University Gelar Workshop di SMK Antartika 1 Sidoarjo

Telkom University
Mahasiswa Telkom University Surabaya Bersama siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) SMK Antartika 1 Sidoarjo usai pelaksanaan workshop sistem absensi fingerprint.

Oleh : Khansa Nailah Anjani, Ananda Bintang Saputra, dan Nur Aulia Dinda Putri
Telkom University

Sidoarjo, Mahasiswa.co.id – Mahasiswa Informatika Telkom University Surabaya menggelar workshop bertajuk “Rahasia di Balik Mesin Absensi Fingerprint” di SMK Antartika 1 Sidoarjo, Senin (1 Desember 2025). Kegiatan ini ditujukan bagi siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) untuk mengenal lebih dekat sistem absensi digital berbasis biometrik. Workshop tersebut diikuti oleh siswa dan siswi RPL. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan sesi diskusi dan pemaparan materi. Acara dilaksanakan di lingkungan SMK Antartika 1 Sidoarjo.

Workshop ini diselenggarakan oleh tim mahasiswa Informatika Telkom University Surabaya yang terdiri dari Khansa Nailah Anjani, Ananda Bintang Saputra, dan Nur Aulia Dinda Putri. Kegiatan ini bertujuan memberikan gambaran nyata mengenai proses pengembangan sistem absensi fingerprint yang mengintegrasikan perangkat keras dan perangkat lunak. Para siswa diperkenalkan pada konsep dasar sistem biometrik yang sering digunakan dalam lingkungan pendidikan dan perkantoran.

Dalam workshop tersebut, pemateri menjelaskan bahwa mesin absensi fingerprint tidak sekadar memindai gambar sidik jari. Sensor fingerprint bekerja dengan membaca pola unik sidik jari dan mengubahnya menjadi data numerik. Data tersebut kemudian diproses oleh mikrokontroler sebagai pusat pengendali sistem. Selanjutnya, informasi kehadiran dikirim ke server untuk disimpan dalam database. Proses ini menunjukkan bagaimana perangkat keras dan perangkat lunak saling terhubung dalam satu sistem terintegrasi.

Pembahasan workshop dibagi ke dalam tiga lapisan utama, yaitu input layer, process layer, dan output layer. Pada input layer, siswa mempelajari cara sensor fingerprint menangkap dan mengenali identitas pengguna. Pada process layer, siswa dikenalkan pada peran mikrokontroler serta penggunaan API sebagai penghubung antara alat absensi dan server. Sementara itu, output layer membahas bagaimana data kehadiran ditampilkan dalam bentuk dashboard admin yang informatif. Pembagian ini membantu siswa memahami alur kerja sistem secara sistematis.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai respons atas adanya kesenjangan antara pembelajaran teori di sekolah dengan kebutuhan keterampilan di dunia industri. Melalui workshop ini, siswa RPL SMK Antartika 1 Sidoarjo mendapatkan gambaran bahwa materi seperti database, logika pemrograman, dan pemrograman web memiliki peran penting dalam pengembangan sistem nyata. Workshop ini juga memberikan contoh penerapan Internet of Things (IoT) dalam lingkungan pendidikan.

Selama sesi diskusi, siswa menunjukkan antusiasme dengan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti kemungkinan kegagalan sensor akibat kondisi tertentu. Diskusi ini memperlihatkan ketertarikan siswa terhadap materi workshop. Pemateri menekankan bahwa kesalahan atau error dalam pengembangan sistem merupakan hal yang wajar. Proses debugging justru menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan berpikir logis seorang programmer. Hal ini memberikan pemahaman bahwa pengembangan sistem tidak selalu berjalan mulus.

Pada sesi penutup, pemateri memperlihatkan contoh potongan kode sederhana yang digunakan untuk menentukan status kehadiran siswa. Logika pemrograman seperti if-else ditunjukkan sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan sistem. Siswa dapat melihat bagaimana baris kode yang sederhana mampu mengendalikan fungsi mesin absensi secara nyata. Hal ini membuat siswa semakin tertarik untuk mengembangkan proyek serupa secara mandiri. Kegiatan ditutup dengan harapan agar siswa terus mengasah kemampuan teknis mereka.

Melalui workshop ini, diharapkan siswa RPL SMK Antartika 1 Sidoarjo dapat memahami bahwa teknologi biometrik bukanlah sesuatu yang rumit atau abstrak. Sistem absensi fingerprint merupakan hasil dari integrasi logika pemrograman, perangkat keras, dan pengelolaan data yang tepat. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih kreatif dan berani bereksperimen dengan teknologi. Dengan pembekalan seperti ini, generasi muda diharapkan mampu menjadi pengembang teknologi yang solutif di masa depan.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.