Mahasiswa.co.id - Sepintas teringat dalam ingatan akan ungkapan Socrates perihal hidup. Ia berkata bahwa “hidup yang tidak direnungi adalah hidup yang tidak layak dijalani”. Perkataan itu membuat saya mulai berpikir lagi terhadap reuni yang masih dalam prencanaan berama kawan-kawan angkatan. Karena bagaimana pun reuni adalah sala satu sarana menatap masa lalu, melaui perbincangan sejawat.
Masalahnya, kebanyakan reuni selalu bernilai sama. Acara itu hanya jadi canda gurau saja, tanpa mengartika apa-apa. Oleh karenanya, saya membaca koran Kompas, Minggu, 18 Agustus 2024. Saya harap dari sana, saya menemukan jawaban.
Ternyata benar saja, ada yang unik dari berita di sana. Alumnus Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia—kini bernamakan Institut Seni Indonesia—di Yogyakarta, melaksanakan acara pertemuan sejawat. Para pelukis yang terdiri dari tujuh orang, yakni Made Bendi Yuda, Made Budhiana, Made Djirna, Made Ruta, Made Sudibia, Nyoman Erawan, dan Nyoman Wibawa, kini ibarat reuni ketiganya. Karena pada 1990, meraka telah melakukah hal serupa di Museum Neka, Ubud, Gianyar, dan di tahun setelahnya terlaksana di Rudana Gallery, kini bernama Museum Rudana.
Berbicara uniknya dari “reuni” itu, mereka melaksanakannya secara serupa tapi begitu bermakna. Acara mereka bertempat di Griya Santrian, Sanur, Denpasar. Acara pameran ini, dilaksanakan sampai kisaran dua bulan—dimulai sejak 5 Juli hingga 30 Agustus 2024. Dari pemeran itu, kita dapat belajar bagaimana cara merenungi hidup, serta mengajak orang lain untuk merenungkan hal yang sama.
Ketujuh perupa dalam naungan Sanggar Dewata, menamai pameran mereka dengan nama Penara Pintu. Nama ini ialah hasil dari kesepakatan mereka dalam menunjukkan kehidupan hari ini yang harus direnungkan, meski fakusnya terhadap Bali saja. Lukisan abstrak dan riuh ekspresi, begitu sarat makna dari masing-masing karyanya. Layaknya karya Mede Ruta.
Pada kanvas kisaran hampir dua meter, Mede Ruta menggambarkan kawah di kayangan dan dunia zaman ini, serta perpaduan imajinasi alam baka nanti. Di lukisan itu, ia ingin merenungkan tentang norma-norma kebaikan dan keburukan yang mulai luntur dari masyarakat Bali. Oleh karenanya, karya itu ia beri nama “Pakeling” yang berarti pengingat.
Sedangkan senada dengan Ruta, Made Bendi Yuda melukis hal yang sama. Lukisan Bendi berjudu “Berjaya di Tiga Dunia”, “Berlaga di Belantara Semesta”, “Menabur Benih Sabda Bayu”, menyiratkan tetang sumber daya alam yang telah tergerus oleh dunia indutri. Ia ingin merenungkan hidup manusia yang terus merusak alam. Bugitu pula Mede Jirna dalam pandangannya terhadap alam.

Komentar 0