Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

SENOPATI ITS, Langkah Awal Revolusi AI Pendidikan Buatan Anak Bangsa

FT
Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati dan tim memantau uji coba SENOPATI di sekolah Surabaya. (Foto: Humas ITS)

By: Zuraidah Putri Br Hutabarat

Mahasiswa.co.id - Kecanggihan kecerdasan buatan (AI) terus merambah berbagai aspek kehidupan. Namun, di tengah maraknya teknologi dari luar negeri, muncul satu pertanyaan besar: apakah Indonesia mampu berdiri di atas kakinya sendiri dalam mengembangkan inovasi seperti ini?

Ketika mendengar tentang SENOPATI — platform AI yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) — saya merasa ada secercah harapan. Tidak sekadar mengikuti tren, SENOPATI dikembangkan dengan orientasi pada kebutuhan nyata bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan bisnis. Ini membuktikan bahwa AI buatan lokal bukan hanya mimpi.

Yang menarik, SENOPATI tidak didesain untuk mengambil alih peran manusia, tetapi justru membantu guru dan dosen menyiapkan materi pembelajaran, mendampingi siswa dalam belajar, serta mempercepat pencarian informasi. Dengan begitu, peran pendidik tetap menjadi sentral, sementara AI mengambil alih tugas-tugas administratif yang kerap menguras waktu dan energi.

Ini adalah pendekatan yang sangat tepat. Dunia pendidikan Indonesia masih bergulat dengan masalah klasik: kekurangan tenaga pengajar, ketimpangan akses pendidikan, serta beban administrasi yang berat. Kehadiran AI seperti SENOPATI berpotensi mengurangi tekanan itu, memungkinkan pendidik lebih fokus pada interaksi dan pembangunan karakter siswa.

Saya melihat langkah ITS ini cukup berani. Mengembangkan AI generatif sendiri bukan perkara mudah. Butuh sumber daya, riset panjang, dan kejelian memahami kebutuhan lokal. Penerapan awal di Program Studi Kedokteran ITS serta beberapa sekolah di Surabaya adalah bukti bahwa inovasi ini tidak hanya berhenti di meja laboratorium, tetapi benar-benar dicoba di lapangan.

Lebih dari itu, SENOPATI juga mendukung target global melalui Sustainable Development Goals (SDGs), terutama di bidang pendidikan berkualitas dan inovasi infrastruktur. Ini membuat proyek ini relevan tidak hanya untuk kebutuhan nasional, tetapi juga dalam kancah global.

Meski begitu, saya sadar tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Salah satunya adalah kesiapan para pendidik. Memperkenalkan AI dalam ruang kelas memerlukan literasi digital yang memadai, yang sayangnya, hingga hari ini, masih menjadi PR besar di Indonesia. Tidak semua guru siap menerima kehadiran teknologi baru. Sebagian mungkin merasa terbebani, bahkan terancam. Jika aspek ini diabaikan, SENOPATI berisiko menjadi aplikasi canggih yang hanya digunakan setengah hati.

Tantangan lain adalah soal pemerataan. Kita tidak boleh lupa bahwa banyak daerah di Indonesia masih menghadapi kendala internet dan perangkat keras. Jika SENOPATI hanya bisa dinikmati di kota besar, maka jurang kesenjangan pendidikan justru akan makin lebar. Maka, perlu ada upaya serius untuk memastikan platform ini bisa berjalan optimal di kondisi jaringan yang terbatas.

Dari sisi etika, penggunaan AI yang mengolah data pribadi siswa juga harus diawasi ketat. Di satu sisi, AI butuh data untuk belajar dan meningkatkan akurasi. Di sisi lain, hak-hak privasi siswa harus dijaga agar tidak terjadi penyalahgunaan informasi.

Saya pribadi membayangkan, di masa depan, SENOPATI bukan hanya menjadi alat bantu guru dan siswa, tetapi berkembang menjadi pusat pembelajaran adaptif. Misalnya, membantu merancang kurikulum personalisasi sesuai gaya belajar masing-masing siswa, atau memberi rekomendasi materi tambahan berdasarkan kebutuhan individu. Jika dikembangkan ke arah ini, dampaknya terhadap mutu pendidikan nasional bisa sangat besar.

Namun, agar semua potensi itu tercapai, butuh dukungan banyak pihak. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang mendorong inovasi sambil mengatur aspek keamanannya. Kampus-kampus lain bisa mengikuti jejak ITS, berkolaborasi dalam riset dan pengembangan. Dunia industri juga perlu turun tangan, memperkuat ekosistem teknologi lokal.

Saya percaya, kehadiran SENOPATI adalah bukti nyata bahwa inovasi tidak harus selalu datang dari Silicon Valley. Kita punya sumber daya manusia, semangat, dan konteks lokal yang kaya untuk menciptakan teknologi kita sendiri. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk bergerak lebih jauh, mengatasi tantangan, dan memastikan bahwa teknologi ini benar-benar memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat.

Jika diolah dan dikembangkan dengan penuh tanggung jawab, SENOPATI bisa menjadi pionir AI generatif Indonesia yang menginspirasi sektor lain. Bukan hanya untuk pendidikan, tetapi juga untuk membangun kemandirian bangsa di tengah pusaran inovasi global.

SENOPATI adalah langkah awal. Tantangan ke depan lebih berat. Tapi justru di situlah semangat perubahan itu diuji.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.