Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Tradisi Takep di Mentawai

Universitas Andalas

Oleh : Natalia Zebua
(Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Mahasiswa.co.id - Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten Kepulauan Mentawai atau biasa dikenal dengan sebutan Bumi Sikerei terkenal dengan pesona alamnya yang indah dan masih terjaga keasliannya. Tak hanya pesona alamnya yang indah namun Mentawai juga terkenal dengan keunikan budaya yang masih terjaga dan kaya akan tradisi adat istiadat kebudayaan serta kearifan lokal. Ada banyak tradisi yang biasa dilakukan oleh Masyarakat Mentawai salah satunya adalah takep. Meskipun tidak semua daerah di Kepulauan Mentawai masih melestarikan tradis takep, namun tradisi takep tetap hidup di kalangan masyarakat pedalaman Mentawai. Salah satu tempat yang masih mempertahankan tradisi ini adalah Dusun Ugai Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan.

Takep merupakan salah satu tradisi yang dilakukan di Mentawai, berupa ukiran tangan atau kaki orang meninggal yang di ukir di batang pohon. Ukiran tangan atau telapak kaki yang di ukir di batang pohon tersebut merupakan sebagai tanda pengenang dari kerabat yang telah meninggal dunia. Pembuatan takep dilaksanakan setelah upacara penguburan. Proses pembuatan takep ini berawal dari mengukur dan menggambar telapak tangan atau kaki dan menggambarkannya di pelepah sagu menggunakan spidol atau alat tulis yang dapat digunakan untuk menggambar. Kemudian setelah upacara penguburan, maka anggota suku akan beramai-ramai mendatangi pohon durian yang telah dipilih, dan salah seorang keluarga yang bersangkutan yaitu Sikerei atau sikebbukat uma (kepala suku) akan mengukir menggunakan pahat. Pada saat pembuatan takep tidak boleh ada yang tertawa, bercanda dan bertengkar atau perselisihan-perselisihan karena masih dalam suasana duka atas kepergian salah satu anggota keluarga. Setelah selesai membuat takep biasanya disekitar pohon takep akan ditanami bunga surak (Puring) atau boblo, sebagai tanda bahwa pohon tersebut sudah dibuatkan takep dan tidak boleh di tebang. Setelah selesai prosesi pembuatan takep, maka akan diadakan sebuah ritual pembersihan, ritual tersebut dikenal dengan Panasai. Ritual Panasai ini dipimpin oleh Sikerei.

Pohon yang digunakan untuk membuat takep bukanlah sembarang pohon melainkan harus pohon durian yang tumbuh subur, rindang, berukuran besar dan sering berbuah. Pohon tempat mengukir takep dianggap sakral dan tidak boleh di tebang secara sembarangan. Pohon durian yang sudah digunakan tempat membuat takep tidak bisa dijadikan sebagai alak toga (mas kawin), dijual apalagi di tebang. Karena, dalam adat Mentawai, salah satu mas kawin yang diberikan itu adalah pohon durian. Orang yang merusak atau menebang tanaman takep dianggap mengusik ketenangan keluarga yang ditinggalkan. Apabila ada orang yang menebang pohon takep, maka orang yang bersangkutan akan dikenakan tulou (denda) sebanyak sepuluh kali lipat dari batang takep yang telah di tebang. Dan dipercaya bahwa apabila ada orang yang menebang pohon takep secara sembarangan maka seluruh tanamannya seperti durian, rambutan, langsat dan lain sebagainya tidak akan berbuah.

Apabila ada orang yang secara tidak sengaja menebang pohon takep maka akan tetap dikenakan tulou (denda) sebanyak sepuluh kali lipat batang pohon durian atau uang sebanyak dua juta rupiah per batang pohon durian. . Dan biasanya akan dilakukan ritual Pasineinei Mone (Permintaan maaf) yang dipimpin oleh Sikerei dengan membacakan mantra dalam bahasa Mentawai sambil mengusapkan daun pada batang pohon takep yang telah tumbang dan mengucapkan beberapa kalimat permintaan maaf sesuai dengan apa yang telah terjadi. Bagi orang Mentawai apabila ada orang yang menebang atau merobohkan poho takep sama saja membunuh kembali kerabat mereka yang sudah meninggal, dan meninggal untuk yang kedua kalinya. Takep ini sebagai tanda bahwa mereka tidak meninggalkan kami, mereka ada bersama kami dan kami terus mengenangnya. Biarkan pohon takep itu mati sendirinya tidak boleh ditebang. Kalaupun ingin ditebang karena pohonnya sudah mulai lapuk atau ada alasan lainnya seperti kepentingan bersama dari pihak pemerintah yaitu pembuatan jalan maka harus melakukan ritual terlebih dahulu. Untuk yang menebangpun biasanya harus pihak keluarga seperti Sikerei. Sikerei yang akan melakukan penebangan takep yang pohonnya sudah mulai lapuk harus melakukan ritual yang dimulai dari mukeikei (berpantang).

Sikerei, para pemimpin spiritual masyarakat Mentawai, dan seluruh warga secara bersama-sama mendedikasikan diri untuk melestarikan tradisi takep, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah dan identitas budaya mereka. Tradisi ini bukan sekadar warisan turun-temurun, melainkan sebuah ikatan spiritual yang kuat dengan leluhur dan alam. Bagi mereka, takep bukanlah sekadar ukiran di batang pohon durian, tetapi simbol keabadian dan kehadiran roh kerabat yang telah meninggal dunia. Ukiran itu menjadi bukti nyata bahwa roh mereka tetap hidup di alam, mengawasi dan memberkati keluarga yang ditinggalkan. Dengan penuh hormat dan kehati-hatian yang mendalam, tradisi takep diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap proses pembuatan takep dilakukan dengan penuh khidmat, sebagai penghormatan terakhir bagi kerabat yang telah tiada. Masyarakat Mentawai percaya bahwa pohon durian yang menjadi wadah ukiran takep memiliki aura sakral dan harus dijaga dengan baik. Penebangan pohon takep dianggap sebagai pelanggaran besar terhadap tradisi. Tradisi takep bukan hanya tentang penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga tentang harmoni dengan alam. Masyarakat Mentawai percaya bahwa alam adalah sumber kehidupan dan harus dijaga dengan penuh kasih sayang. Melalui tradisi takep, mereka menunjukkan rasa syukur dan cinta yang abadi kepada alam yang telah memberikan mereka kehidupan dan sumber daya.

Biodata Penulis
Natalia Zebua, perempuan kelahiran Mentawai, pada 23 Desember 2005. Ia merupakan seorang mahasiswi aktif jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Saat ini sedang bergiat di Labor Penulisan Kreatif FIB . Juga bergiat di Labor Sastra dan Budaya FIB Universitas Andalas.
Instagram: @alyachrisensia23

Ruang Pembaca

Komentar 1

tangalek sabaggalet

lebih menarik kalaua disertakan dengan dokumentasi