Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Kacamata, Sahabat atau Beban? Curahan Hati Si Pengguna Lensa

Kacamata

Mahasiswa.co.id - Pernah gak sih kamu merasakan, gimana hidup dengan kacamata? Sebagian orang berpikir kacamata mungkin lebih terlihat keren, seperti aksesoris tambahan yang bikin gaya terlihat makin kece. Tapi buat kita-kita pengguna kacamata, ada banyak hal yang orang-orang belum tahu. Kacamata ini bukan hanya alat bantu buat lihat dunia lebih jelas, dibalik itu ada cinta-benci tersendiri dengan benda ini. Nah aku mau berbagi curhatan nih tentang suka duka hidup dengan kacamata.

Awal Pertemuan Saat Dunia Terasa Lebih Jelas
Aku masih ingat momen pertama kali pakai kacamata. Awalnya, aku berfikir bahwa mata minus dan pakai kacamata itu kelihatan keren dan kece, dulu aku pengen banget pakai kacamata, yaa pengen kelihatan kece aja.

Dan pada suatu ketika aku ngga terlalu sadar kalau penglihatanku mulai kabur, waktu di kelas penglihatan di papan tulis sering terlihat samar, dan membaca tulisan kecilpun butuh usaha yang lebih, setiap kali melihat kejauhan atau nonton TV semuanya terlihat sedikit buram, pikirku itu suatu hal yang biasa. Sampai suatu ketika aku mulai curiga dan mencoba periksa ke optik, dan yahh ternyata benar aku punya mata minus! Dan akhirnya mendapat kacamata pertamaku.

Waktu itu, perasaanku campur aduk banget. Di satu sisi dunia terasa terang dan jelas, seperti ada "filter HD" yang terpasang di mataku, dan di sisi lain, aku merasa canggung dan tidak percaya diri, rasanya aneh seolah-olah ada sesuatu asing yang menghalangi wajahku. Ini benda yang, yahhh akan nempel terus kemanapun aku pergi.

Beban Sehari-Hari: Hal-Hal Kecil yang Bikin Pusing
Setelah tiga setengah tahun pakai kacamata, aku jadi makin paham suka dukanya. Setiap hari ada aja ribetnya gara-gara kacamata ini, misalnya ketika pakai masker, embun langsung mengaburkan lensa, ketika mengendarai sepeda motor pada malam hari penglihatan kurang jelas walaupun sudah memakai kacamata, belum lagi ketika lari lari atau olahraga, kacamata jadi lebih sering melorot dan bikin repot sendiri.

Kadang aku berpikir buat pakai soflens atau operasi mata, tapi selain mahal ada ketakutan tersendiri juga, takut operasinya gagal dan takut juga nyoba hal baru, lagipula kacamata ini tidak terlalu buruk dan sudah jadi bagian dari identitasku. Meskipun ribet, aku sudah terbiasa hidup dengan "teman setia" ini.

Sahabat Sejati Atau Beban Abadi?
Kacamata ini memang bikin hidup terasa lebih terang, tapi juga kadang bikin beban. Dari bangun tidur sampai tidur lagi kayak berasa ada yang "hilang" penglihatan buram dan tidak jelas kalau nggak pakai kacamata. Ada yang bilang, "kenapa nggak coba pakai soflens atau operasi aja biar bebas?" Tapi entah kenapa kacamata ini udah jadi bagian dari diriku.

Seiring berjalannya waktu mata ini semakin parah, dalam kurun waktu 9-10 bulan minus dan silindernya makin bertambah, dan kagetnya lagi pas pengecekan mata yang kedua kalinya, kata dokter mata minus ini tidak bisa di obati, hanya saja mengurangi agar minus tidak cepat naik, yaa salah satu caranya dengan menggunakan kacamata, dan kalaupun mau sembuh harus operasi yang biayanya lumayan mahal dan menguras dompet.

Pada akhirnya, kacamata buatku bukan sekedar alat bantu, tapi sahabat setia yang selalu ada di setiap langkah hidupku. Memang kadang nyusahin, tapi setiap kali aku pakai, aku merasa lebih lengkap dan percaya diri. Jadi untuk kalian yang juga memakai kacamata, mungkin kalian paham perasaan ini, bagi kami para pengguna kacamata, benda ini adalah teman yang punya cerita sendiri, hubungan cinta dan benci yang nggak bisa dimengerti oleh mereka yang nggak memakainya.

Yaa begitulah curhatan hati dari si pengguna lensa. Kacamata, sahabat atau beban? Mungkin jawabannya ada antara keduanya.

Oleh: Maulana Jainal Abidin
UIN Antasari Banjarmasin
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.