Dok. Pribadi Upacara Merti Dusun di salah satu Desa wilayah Kulon Progo. Mengundang International Friends untuk turut merasakan keragaman budaya local.
Bara Hasnuagi Hinggis – HI UII 2020, Mahasiswa.co.id - Saat memikirkan kenangan KKN, saya langsung merasa bergidik sambil mencari-cari tempat yang dapat menyembunyikan rasa malu yang tersisa. Bagaimana tidak, saat itu kami berlagak bak seorang ilmuwan hebat yang dengan bangga dan percaya mampu mengatasi kelangkaan kebutuan warga dengan membuat kompor berbahan bakar campuran air, minyak jelantah, dan oli disaat tidak salah satupun dari kami yang berasal dari jurusan Teknik mesin, Kimia, atau sejenisnya yang paham tektek bengek komposisi dan mekanisme nya, hanya bermodalkan yakin dan youtube. Seperti yang diharapkan, endingnya buruk. Api kompor berhasil menyala tapi tidak dengan semangat warga, biaya membengkak 3 kali lipat, dan yang kami dapat hanya wajah formalitas warga yang seolah menghargai usaha kami padahal tidak, pada titik ini ingin rasanya saya memanggil Tony Stark dari Universe Marvel untuk bergabung dalam unit KKN kami dan membereskan semuanya.
Tony Stark dan Survei Lapangan KKN Sebelum KKN dimulai, sebetulnya kami memiliki 2 kali agenda kunjungan untuk berkoordinasi dengan pemerintah setempat, dan itu sudah kami lakukan melalui beberapa orang perwakilan dari unit. Selain untuk berkenalan dengan pemimpin dusun untuk membahas dimana kami tinggal, bagaimana kita makan dan memasak, tetapi pada dasarnya kunjungan ini adalah ajang untuk Kepo terhadap kebutuhan warga sekitar dan program KKN yang sebelumnya dilakukan kelompok dari kampus Lain. Hasilnya ternyata cukup beragam : ada kelompok yang membuat sabun dari bahan baku kelapa, memberdayakan warga dengan membuat cemilan dari bahan yang ditemukan di sekitar, hingga sosialisasi pencegahan stunting yang sedang ramai-ramai nya digemborkan.
Andai saja waktu itu saya mengajak Tony Stark untuk datang survey ke lokasi KKN, proses birokrasi bersama warga dan observasi mungkin akan kita bereskan dalam 1 kali pertemuan. Tony mungkin akan memantik diskusi dengan unit, dosen pembimbing lapangan, pak dukuh, dan perwakilan warga untuk kemudian mengusulkan dan menentukan program kerja berdasarkan kondisi real di lapangan saat itu juga, menghitung keberhasilan, kebermanfaatan program, dan favorabilitas program yang diusung bagi warga setempat lewat bantuan asisten AI-nya Jarvis, tidak seperti kami yang banyak menerima masukan, yang akhirnya pusing sendiri kelabakan dalam menentukan program. Kami yang saat itu memikirkan banyak kemungkinan dalam waktu yang panjang : membuat bank sampah yang bisa meningkatkan ekonomi warga, mengedukasi pengelolaan sampah warga melalui eco brick, dan ide-ide lainnya yang kini tidak saya ingat akhirnya memutuskan untuk memilih program kompor ajaib yang bisa mengatasi kelangkaan kebutuhan pokok warga, bullshit.
Mentalitas Kuat Tony Stark Yang Selalu Memiliki Rencana Cadangan Tony Stark yang Inovatif dan Kreatif selalu punya rencana Cadangan. Tony Tumbuh dan belajar dari kesalahan, hidup melalui eskperimen dan tantangan. Ketika kami mendapatkan hasil yang kurang memuaskan dalam proses pelaksanaan proker dan merasa sudah mentok, Tony akan terus mencoba sambil slengean tidak peduli pada hal lain tapi fokus pada program. Pada awal-awal penyuluhan program unit, kami bukannya apatis dan tidak memperhatikan reaksi sekitar. Saya jelas-jelas melihat warga mendengus sinis dengan program yang kami lakukan. Celetukan paling jelas yang diucapkan warga adalah “ribet mas, mending saya pakai tungku kayu saja”. Dari sini pun kami sudah ragu dan ogah-ogahan untuk melanjutkan jika bukan karena dorongan dosen pembimbing lapangan yang terus menyemangati kami. Pertemuan pembahasan revisi program sempat kami gelar tapi dasar kami yang kurang pandai tidak seperti Tony, ide lain yang tercipta dan kami jalankan juga tidak begitu punya dampak besar. Kami mencoba merangkul karang taruna, membekali mereka softskill keorganisasian tapi ya begitulah hasilnya bukan hal yang luar biasa. Kalau ada Tony, warga bisa saja langsung tertarik dan terbantu hanya dalam minggu pertama KKN tanpa ada drama berkali-kali ganti prototipe dan gimmick gimmick mengundang dan membujuk warga untuk mengikuti sosialisasi proker. Minggu-minggu berikutnya bisa kita pakai untuk bersantai ria menikmati kehidupan pedesaan yang asri bersama tony.
Uang Saku Tony Stark yang Unlimited dan jiwa Rela Berkorban Tony stark mewarisi Perusahaan ayahnya : stark entreprise, dengan modal ini dia akan menjadi anggotta unit paling berpengaruh atau mungkin anak paling kaya satu kampus. Saya yakin dengan masuknya dia dalam unit kami, uang jajan akan aman tanpa perlu susah payah makan indomie tiap hari di bulan-bulan setelah KKN. Saya yakin ketika warga meminta bantuan apapun itu tony stark tidak perlu merogoh dompetnya dulu melihat uang yang tersisa, tapi justru langsung mengamini nya. Hiburan warga seperti dangdut orkes dan lain lain atau perbaikan infrastruktur, seperti jembatan, sumbangan buku dan hadiah lomba-lomba anak pastilah mewah dan ciamik berbeda dengan apa yang kami upayakan, tidak enak menolak permintaan warga, tapi menjalankan nya dengan budget minimalis. Tony akan automatis dibicarakan satu kampung dan diingat warga sebagai orang paling rela berkorban yang membawa kebahagiaan. Ceirta kedermawanan Tony saat KKN akan jadi cerita turun temurun yang disampaikan warga kepada kelompok-kelompok KKN berikutnya setelah kami.
Tony Stark dan Tantangan Relevansi KKN Tony stark akan menjadi sosok paling sukses dalam menjalankan KKN di era sekarang ini. Dia akan mampu menjawab tantangan relevansi KKN yang pelik, misal pertanyaan tentang masih butuhnya KKN, atau penting atau tidak, berdampak atau tidak nya proker KKN terhadap kehidupan masyarakat desa. Tony bisa mengatasi dinamika masyarakat desa sedikitnya telah berubah berkat melimpah ruahnya akses informasi. Boro-boro mendekati pengejewantahan seorang Tony mencoba meniru nya saja, saya sebagai mahasiswa harus belajar super ekstra. Mahasiswa malas seperti kami mana bisa mewujudkan KKN ideal nya Tony Stark. Meskipun ada yang bilang program kerja bukan faktor utama kesuksesan KKN tapi ketika masyarakat punya ekspektasi yang terpupuk dari kelompok KKN sebelumnya, ya tetap saja hal tersebut penting dipikirkan kalau tidak mau menderita. Ya untunglah kalau ada Tony, kalau tidak ya paling-paling dapat pengalaman ngehe seperti saya
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0