Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pikiran Macet Di Tengah Kesibukan: Ketika Multitasking jadi Bumerang

thumb

Oleh: Nuril Hana'
UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan

Mahasiswa.co.id - Sering kita jumpai, kebanyakan orang telah memulai aktivitas di pagi hari dengan berbagai tumpukan pekerjaan yang berdatangan. Mulai dari membalas pesan, diserbu tenggat deadline sampai mengurus pekerjaan rumah sembari mempersiapkan anak sekolah. Fenomena mengerjakan banyak hal sekaligus atau yang biasa disebut dengan multitasking sering kita jumpai di era yang serba cepat. Sayangnya, masyarakat mulai menganggap kesibukan sebagai tolak ukur keberhasilan, dimana semakin sibuk seseorang maka dianggap semakin produktif. Padahal, dibalik kegiatan multitasking banyak penelitian yang menunjukkan dampak negatif dari cara kerja yang memaksa otak. Menurut Stanford University orang yang sering multitasking justru lebih mudah terdistraksi oleh banyak hal.

Berupaya mengerjakan banyak tugas demi menghemat waktu justru menjadi bumerang bagi pikiran dan kesehatan mental. Orang yang terbiasa multitasking cenderung lebih sulit berkonsentrasi, memiliki daya ingat yang lebih lemah dan mudah terdistraksi. Ironinya, hal seperti ini justru malah sering luput dari perhatian banyak orang. Di satu sisi, tuntutan lingkungan dan pekerjaan menuntut kita untuk serba cepat. Di sisi lain, cara kerja yang terburu-buru justru membuat otak kewalahan. Ketika otak dipaksa bekerja ganda, konsentrasi terpecah dan hasil yang ingin dicapai pun kurang efisien. Padahal otak tidak diciptakan untuk bekerja seperti mesin. Akibatnya, banyak orang merasa lelah meskipun belum tentu menyelesaikan semua tugas dengan baik.

Berdasarkan riset Scientific American, otak manusia sebenarnya tidak melakukan multitasking melainkan hanya berpindah fokus dengan sangat cepat. Setiap kali berganti dari satu aktivitas ke aktivitas lain, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Akibatnya, energi mental terkuras, kecepatan kerja menurun, dan peluang melakukan kesalahan semakin besar. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa mengerjakan banyak hal sekaligus otomatis bagian-bagian otak yang berbeda aktif secara bergiliran. Artinya, otak tidak bekerja paralel melainkan terus beralih layaknya komputer yang membuka terlalu banyak tab hingga performanya melambat. Oleh karena itu, orang yang terbiasa multitasking cenderung memiliki konsentrasi yang lebih rendah dibanding dengan mereka yang fokus pada satu tugas dalam satu waktu. Selain itu riset mengatakan bahwa memori kerja yang dimiliki oleh pelaku multitasking lebih lemah. Orang-orang lebih gampang terdistraksi oleh hal-hal di sekitar.

Ketika otak terlalu sering berpindah fokus, tubuh akan memproduksi hormon stres. Apabila hal ini terjadi secara terus menerus, peningkatan hormon stres dapat merusak fungsi kognitif, kemampuan fokus berkurang serta dapat melemahkan memori jangka pendek. Terbiasa multitasking membuat seseorang mudah cemas dan kehilangan kemampuan dalam berpikir secara jernih. Para ahli sepakat bahwa perilaku multitasking tidak sebanding dengan risiko mental yang ditimbulkannya. Meskipun terlihat impresif, cara kerja seperti ini justru memaksa otak bekerja di luar kapasitas alaminya. Pandangan para ahli ini menguatkan bahwa multitasking bukanlah sebagai solusi dari sebuah produktivitas.

Di sekeliling kita, sudah terlihat jelas bagaimana multitasking membawa dampak yang sering luput dari perhatian. Menurut saya, contoh paling sederhana terdapat pada mahasiswa yang mengerjakan tugas sembari mendengarkan musik dilanjut dengan mengobrol bersama teman-temannya. Meskipun dari luar tampak biasa saja, tapi begitu ia berbicara pikirannya bisa terhenti begitu saja di tengah kalimat. Hal ini menunjukkan bahwa fokusnya terbagi antara tiga rangsangan sekaligus, dan semuanya saling berebut ruang di kepala. Tidak hanya membuat alur pikir menjadi mudah terputus, tetapi juga memunculkan rasa jengkel karena pekerjaan tidak terasa benar-benar selesai. pada akhirnya, waktu habis tanpa hasil yang memuaskan, sementara pikiran makin cepat lelah sampai lupa apa yang mau diucapkan. menurut saya, contoh seperti ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa multitasking lebih sering menjadi jebakan daripada solusi.

Realita nya hal inilah yang menguatkan pandangan bahwa multitasking bukanlah kemampuan luar biasa seperti yang selama ini diperbincangkan. Di balik citra produktif, ada beban mental yang diam-diam menggerus fokus dan energi. Kebiasaan mengerjakan banyak hal sekaligus malah menurunkan kualitas hidup karena hasil akhirnya tidak sebanding dengan tenaga yang terkuras. Dalam konteks ini, saya memandang perlunya kita menata ulang cara dalam mengerjakan suatu hal. Dunia modern memang menekan kita untuk serba cepat, tetapi bukan berarti ketenangan pikiran harus dikorbankan. Pada akhirnya, multitasking hanya membuat perhatian terpencar, pikiran macet, dan tubuh bekerja dalam kondisi tertekan. Memberi ruang untuk fokus pada satu tugas dan menyediakan antarkegiatan jauh lebih masuk akal dalam menjaga produktivitas sekaligus kesehatan mental. Sudah saatnya meninggalkan anggapan lama bahwa sibuk berarti efektif, karena fokus yang terarah justru memberikan hasil yang lebih kuat dan lebih manusiawi.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.